Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way






























Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
Nabi ﷺ mengabarkan, siapa di antara kalian, wahai umat Islam, ketika pagi merasakan badannya sehat dan selamat dari penyakit, mendapatkan rasa aman pada dirinya, keluarganya, tanggungannya, dan pada perjalanannya tanpa rasa takut, dan ia memiliki kecukupan makanan pokoknya hari itu yang halal, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah dihimpun untuknya.
Nabi ﷺ menganjurkan doa-doa yang komprehensif, mencakup kebaikan dunia dan akhirat, yang memiliki lafaz sedikit tetapi maknanya banyak, berisikan pujian-pujian kepada Allah Ta'ala dan keinginan-keinginan yang baik, dan sebaliknya beliau meninggalkan selain itu.
Nabi ﷺ mengingatkan agar tidak banyak bersumpah dalam jual beli walaupun sumpahnya benar. Beliau mengabarkan bahwa sumpah menjadi sebab larisnya barang dagangan, tetapi mengurangi dan menghancurkan keberkahan laba dan penghasilan. Bisa jadi Allah Ta'ala menimpakan padanya berbagai macam kejadian yang akan melenyapkannya seperti pencurian, kebakaran, tenggelam, perampasan dan kejadian lainnya yang dapat melenyapkan hartanya.
Nabi ﷺ melarang perbuatan mencela atau memaki angin karena ia diperintahkan oleh penciptanya. Angin datang membawa rahmat dan membawa azab. Mencela angin adalah celaan kepada Allah, Tuhan yang menciptakannya, dan sikap tidak rida dengan ketetapan-Nya. Kemudian beliau ﷺ mengarahkannya agar kembali kepada Allah sebagai penciptanya dengan meminta kebaikannya, kebaikan yang dikandungnya, dan kebaikan yang diperintahkan kepadanya seperti membawa hujan, membantu perkawinan tumbuhan, dan semisalnya. Sebaliknya, harus berlindung kepada Allah dari keburukannya, keburukan yang dikandungnya, dan keburukan yang diperintahkan kepadanya seperti memusnahkan pohon dan tumbuhan, kematian binatang, menghancurkan bangunan dan semisalnya. Meminta hal itu kepada Allah adalah realisasi peribadatan kepada Allah.
Nabi ﷺ melarang menggantungkan doa pada sesuatu, bahkan pada kehendak Allah sekalipun karena hal itu adalah perkara yang telah diketahui dan diyakini bersama bahwa Allah tidak akan mengampuni kecuali jika Dia menghendaki. Tidak ada artinya mensyaratkan kehendak karena kehendak itu disyaratkan pada orang yang ada kemungkinan melakukan sesuatu tanpa kehendak, baik dengan paksaan atau lainnya, padahal hal itu disucikan dari Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Nabi ﷺ telah menjelaskan hal tersebut di bagian akhir hadis, yaitu dengan sabda beliau: Sesungguhnya tidak ada yang bisa memaksa Allah. Selain itu, Allah juga tidak pernah menganggap besar sesuatu yang diberikan-Nya. Dia tidak lemah, tidak pula ada sesuatu yang dianggap-Nya besar sehingga perlu dikatakan: jika Engkau menghendaki. Menggantungkan permintaan pada kehendak merupakan bentuk sikap tidak butuh pada ampunan-Nya. Perkataan seseorang: "Jika engkau berkenan memberiku begini maka silakan lakukan", ini tidak digunakan kecuali pada keadaan sedang tidak butuh kepadanya atau pada orang yang tak mampu. Adapun pada orang yang mampu disertai ada kebutuhan tinggi kepadanya, maka ia akan meminta dengan tekad bulat dan layaknya permintaan orang yang butuh dan terpaksa pada apa yang ia minta. Dia akan kembali kepada Allah karena Dia Mahakaya, Mahasempurna lagi Mahakuasa atas segala sesuatu.
Nabi ﷺ mendoakan tiga kelompok orang agar hidung mereka menempel di tanah sebagai bentuk kehinaan dan kerugian, yaitu: Pertama: Orang yang disebut nama Nabi ﷺ di sisinya, namun ia tidak berselawat dengan mengatakan: Ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, atau selawat lainnya yang semisal. Kedua: Orang yang mendapatkan bulan Ramadan kemudian bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan karena kelalaiannya dalam mengerjakan ketaatan. Ketiga: Orang yang mendapati kedua orang tuanya sudah tua lalu keduanya tidak menjadi sebab ia masuk surga lantaran kedurhakaannya dan kelalaiannya dalam menunaikan hak mereka.
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa tidaklah dua orang muslim bertemu di jalan dan semisalnya lalu salah satunya mengucapkan salam kepada yang lain sambil berjabatan tangan kecuali keduanya akan diampuni sebelum mereka berpisah badan atau selesai berjabatan tangan.
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hati manusia seluruhnya ada di antara dua jari di antara jari-jari Ar-Raḥmān seperti satu hati. Allah membolak-baliknya ke mana Dia kehendaki. Jika berkehendak, Allah akan meluruskannya di atas kebenaran. Jika berkehendak, Allah akan memalingkannya dari kebenaran. Tindakan Allah di semua hati sama seperti perlakuan terhadap satu hati, Dia tidak disibukkan oleh suatu urusan dari urusan yang lain. Kemudian beliau ﷺ berdoa: Ya Allah, Tuhan yang membolak-balik hati, kadang pada ketaatan dan kadang pada kemaksiatan, kadang pada kondisi ingat dan kadang pada kondisi lalai, palingkanlah hati kami pada ketaatan kepada-Mu.
Nabi ﷺ mendoakan adanya keindahan dan cahaya di dunia serta menyampaikannya pada keindahan surga serta kenikmatan dan keindahannya di akhirat bagi orang yang mendengar hadis beliau lalu menghafalnya hingga menyampaikannya kepada yang lain. Ada kalanya orang yang disampaikan kepadanya hadis lebih paham dan lebih mampu menyimpulkan hukum dari orang yang menyampaikan hadis tersebut. Orang yang pertama itu baik dalam menghafal dan menyampaikan, sedangkan orang yang kedua baik dalam memahami dan menyimpulkan.