





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah makan dua kali dalam sehari melainkan salah satunya adalah kurma."
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa keluarga Nabi ﷺ tidak makan dalam sehari dua kali kecuali salah satunya adalah kurma.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Sejak tiba di Madinah, keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dengan makanan gandum selama tiga malam berturut-turut hingga beliau diwafatkan."
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- memberitahukan bahwa keluarga Nabi ﷺ tidak pernah kenyang sejak tiba di Madinah dengan makanan gandum tiga hari berturut-turut sampai beliau ﷺ wafat.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Kasur Rasulullah ﷺ terbuat dari kulit yang diisi sabut." Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Bantal Rasulullah ﷺ yang biasa digunakan untuk bersandar, terbuat dari kulit diisi sabut."
Muttafaq 'alaihUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa kasur yang biasa digunakan tidur oleh Rasulullah ﷺ terbuat dari kulit yang telah disamak, diisi penuh dengan sabut pohon kurma. Begitu pula dengan bantal yang digunakan untuk bersandar.
'Amr bin Al-Ḥāriṡ, ipar Rasulullah ﷺ, saudara Ummul Mukminin Juwairiyah binti Al-Ḥāriṡ -raḍiyallāhu 'anhum- berkata, "Rasulullah ﷺ ketika wafat tidak meningalkan dirham, dinar, budak laki-laki atau perempuan, atau sesuatu apa pun lainnya, kecuali bagal berwarna putih milik beliau, senjatanya, serta tanah yang sudah disedekahkan."
HR. BukhariKetika Nabi ﷺ wafat, beliau tidak meninggalkan apa pun; dirham perak ataupun dinar emas, seorang budak laki-laki atau perempuan, tidak pula meninggalkan kambing dan unta maupun harta lain, kecuali bagal putih miliknya yang biasa beliau tunggangi, senjata yang biasa beliau bawa, serta tanah yang sudah diwakafkan semasa beliau masih sehat untuk kepentingan ibnusabil.
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Tidaklah pernah Rasulullah ﷺ berpidato kepada kami kecuali beliau bersabda, "Tidak sempurna iman orang yang tidak memiliki sifat amanah, dan tidak sempurna agama orang yang tidak menjaga kesepakatan."
HR. AhmadAnas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa jarang sekali Nabi ﷺ berkhotbah atau memberi nasihat kecuali beliau menyebutkan dua hal: Pertama: Tidak sempurna iman orang yang ada dalam dirinya terdapat sifat khianat kepada orang lain terkait hartanya, dirinya, atau keluarganya. Kedua: Tidak sempurna agama orang yang mengkhianati kesepakatan dan perjanjian atau membatalkannya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan orang-orang yang sedang duduk, seraya bersabda, "Maukah kalian bila aku beritahukan tentang siapa orang terbaik dan siapa orang terburuk di antara kalian?" Mereka semua diam, hingga beliau mengulanginya sampai tiga kali. Lantas seorang laki-laki berkata, "Tentu, wahai Rasulullah. Beritahukanlah kepada kami siapa orang terbaik dan terburuk di antara kami." Beliau bersabda, "Orang terbaik di antara kalian ialah sosok yang dinantikan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya. Sedangkan yang terburuk di antara kalian ialah sosok yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang lain tidak merasa aman dari keburukannya."
HR. TirmiziNabi ﷺ berdiri di hadapan sahabat-sahabat beliau yang sedang duduk lalu bertanya kepada mereka, "Maukah kalian bila aku beritahukan kepada kalian tentang orang terbaik dan terburuk di antara kalian?" Mereka sama sekali tidak menjawab karena khawatir akan tersingkap siapa yang terbaik dan terburuk di antara mereka, serta mereka takut akan terkuak keburukannya. Oleh karena itu mereka diam. Nabi ﷺ mengulangi pertanyaan tersebut kepada mereka sampai tiga kali, sehingga salah satu mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah. Beritahukanlah kepada kami siapa yang terbaik dan terburuk di antara kami." Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa orang terbaik di antara mereka ialah sosok yang dinantikan dan diharapkan kebaikannya; orang lain merasa aman dari keburukannya, dan tidak ada kekhawatiran dia akan berbuat zalim, menyakiti, atau bertindak semena-mena. Sedangkan orang terburuk di antara kalian, yaitu sosok yang tidak bisa diharapkan dan dinantikan kebaikannya, serta orang lain tidak merasa aman dari keburukannya, bahkan dikhawatirkan dia akan berbuat zalim, mengganggu, dan bertindak semena-mena.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Nabi ﷺ bersabda, "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia."
HR. Abu Daud, Tirmizi, dan AhmadNabi ﷺ menyampaikan bahwa orang yang tidak berterima kasih kepada orang lain atas kebaikan yang mereka lakukan kepadanya biasanya tidak akan bersyukur kepada Allah. Hal itu karena adanya keterkaitan antara keduanya, yaitu orang yang tabiat dan kebiasaannya mengingkari kebaikan orang lain dan tidak berterima kasih, akan terbiasa untuk mengingkari nikmat Allah dan enggan untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia berwudu di rumahnya kemudian keluar. Lalu ia berkata, "Aku akan menemani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan aku akan bersamanya di hariku ini." Lantas ia mendatangi masjid lalu menanyakan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Orang-orang menjawab, "Beliau keluar ke arah sana." Ia berkata, "Aku pun keluar mengejarnya, aku menanyakannya sampai beliau masuk ke sumur Arīs. Aku duduk di dekat pintu hingga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyelesaikan keperluannya dan berwudu. Aku pun berdiri menghampiri beliau. Ternyata beliau sedang duduk di atas sumur Arīs, di tengah-tengah tepinya. Beliau menyingkapkan kedua betisnya dan menjulurkan keduanya ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada beliau lalu kembali lagi duduk di dekat pintu. Aku berkata, "Aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hari ini. Lantas datang Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- lalu ia mendorong pintu. Aku bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Abu Bakar." Aku katakan, "Sebentar." Selanjutnya aku pergi (menemui Nabi) lalu aku katakan, "Wahai Rasulullah, ini Abu Bakar datang meminta izin (masuk)." Beliau bersabda, "Izinkan dia dan berilah kabar gembira berupa Surga untuknya." Lalu aku datang menghampirinya hingga aku berkata kepada Abu Bakar, "Masuklah, dan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Abu Bakar masuk lalu duduk di samping kanan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tepi sumur dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur seperti yang dilakukan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- serta menyingkapkan kedua betisnya. Kemudian aku kembali ke tempat dan duduk, dan aku membiarkan saudaraku berwudu serta menyusulku. Aku berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang -yaitu saudaranya- Dia pasti mendatangkannya. Tiba-tiba ada seseorang menggerak-gerakkan pintu. Aku pun bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Umar bin Al-Khaṭṭāb." Aku berkata, "Sebentar." Kemudian aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengucapkan salam kepadanya dan berkata, "Ini Umar meminta izin." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga." Aku pun mendatangi Umar lalu berkata, "Beliau telah memberi izin dan memberimu kabar gembira berupa Surga." Lantas Umar masuk lalu duduk bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di tepi sumur, di sebelah kiri beliau, dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Selanjutnya aku kembali dan duduk. Aku berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang -maksudnya saudaranya- pasti Dia mendatangkannya. Tiba-tiba datang seseorang lalu menggerak-gerakkan pintu. Aku pun bertanya, "Siapa ini?" Ia menjawab, "Uṡmān bin 'Affān." Aku berkata, "Sebentar." Aku mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mengabarkan kedatangannya kepada beliau. Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga beserta bencana yang menimpanya." Aku pun mendatangi Uṡmān lalu berkata, "Masuklah dan beliau memberimu kabar gembira berupa Surga beserta bencana yang akan menimpamu." Uṡmān masuk dan mendapati tepi sumur sudah penuh, maka dia pun duduk di hadapan mereka di sisi lainnya." Sa'īd bin Al-Musayyab berkata, "Aku menakwilkannya sebagai posisi kubur mereka." Dalam sebuah riwayat, Abu Musa menambahkan, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memerintahkanku untuk menjaga pintu." Dalam riwayat itu disebutkan bahwa ketika Uṡmān diberi kabar gembira tersebut, dia memuji Allah -Ta'ālā- lalu berkata, "Allah tempat meminta pertolongan."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Muttafaq 'alaihDalam hadis Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- dikemukakan bahwa pada suatu hari dia berwudu di rumahnya dan keluar mencari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- seraya berkata, "Aku akan menemani Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pada hariku ini." Yakni, aku akan bersamanya pergi dan pulang. Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-keluar mencari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu mendatangi masjid, karena Rasulullah -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- bisa berada di masjid, bisa juga di rumahnya sedang melakukan pekerjaan keluarganya, dan bisa juga sedang mengurus keperluan-keperluan para sahabatnya -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām-. Ternyata dia tidak menemukan beliau di masjid. Lantas ia bertanya tentang beliau. Orang-orang menjawab, "Beliau pergi ke arah sana." Mereka memberi isyarat ke arah Arīs, yaitu sumur di sekitar Quba. Abu Musa pergi menyusul beliau hingga tiba di sumur lalu menemukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di sana, ia pun diam di pintu kebun yang ada sumurnya itu. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menunaikan keperluannya dan berwudu, lalu Nabi -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- duduk di tengah-tengah tepi sumur, yaitu sisi sumur, dan menjulurkan kedua kakinya sambil menyingkapkan kedua betisnya. Sedangkan Abu Musa berada di dekat pintu untuk menjaga pintu sumur itu laksana penjaga Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tiba-tiba Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu- meminta izin (masuk). Abu Musa tidak memberinya izin sampai memberitahukan terlebih dahulu kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Dia berkata kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ini Abu Bakar meminta izin." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan sampaikan kabar gembira kepadanya berupa Surga." Ia pun memberinya izin sambil berkata kepadanya, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Ini merupakan kabar gembira yang agung. Ia memberinya kabar gembira berupa Surga lalu memberinya izin untuk masuk agar bisa bersama Rasul -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Abu Bakar masuk dan menemukan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang berada di tengah-tengah tepi sumur. Ia pun duduk di sebelah kanannya karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- suka (mendahulukan) kanan dalam segala sesuatu. Abu Bakar duduk di sebelah kanan beliau dan melakukan seperti yang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lakukan; dia menjulurkan kedua kakinya di dalam sumur, serta menyingkap kedua betisnya karena tidak suka menyelisihi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam duduk tersebut. Abu Musa -yang meninggalkan saudaranya berwudu dan hendak menyusulnya- berkata, "Jika Allah menghendaki kebaikan untuk (saudaranya), niscaya Dia mendatangkannya." Jika dia datang dan meminta izin maka dia memperoleh kabar gembira berupa Surga. Akan tetapi datang lelaki kedua yang meminta izin. Abu Musa pun datang kepada Rasul -'alaihi aṣṣalātu wa as-salām- sambil berkata, "Ini Umar." Beliau bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga." Dia pun memberinya izin dan berkata kepadanya, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga." Umar masuk dan mendapati Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan Abu Bakar di tepi sumur. Ia pun duduk di sisi kiri Rasul -`alaihi aṣsalatu wa as-salam- sedangkan sumur itu sempit, tidak luas. Ketiga orang itu berada di satu sisi. Selanjutnya Uṡmān meminta izin. Abu Musa pun meminta izin (kepada Nabi) sebagaimana yang dilakukannya. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Berilah ia izin dan berilah ia kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpanya." Ia pun memberinya izin sambil berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberimu kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpamu." Dengan demikian, dia akan mendapatkan Surga dan musibah. Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- berujar, "Segala puji hanya milik Allah. Allah tempat meminta pertolongan atas musibah ini, dan segala puji hanya milik Allah atas kabar gembira ini." Dia pun masuk lalu mendapati sisi sumur sudah penuh karena sisi tersebut tidak terlalu luas. Ia pun menuju ke arah lain di hadapan mereka dan duduk di sana, menjulurkan kedua kakinya, dan menyingkap kedua betisnya. Sa'īd bin Al-Musayyab -seorang pembesar tabiin- menakwilkannya bahwa itu adalah posisi kuburan mereka. Sebab, kuburan ketiga orang itu berada di satu tempat; Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, Abu Bakar dan Umar. Semuanya dalam satu ruangan. Mereka semua dikuburkan dalam satu tempat. Dulu mereka di dunia pergi bersama dan pulang bersama. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- senantiasa bersabda, "Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku datang bersama Abu Bakar dan Umar." Keduanya adalah dua sahabat dan penolong beliau. Pada hari kiamat kelak, mereka akan bangkit dari kuburnya bersama-sama. Dengan demikian, mereka itu bersama-sama di dunia dan akhirat. Lantas Uṡmān -raḍiyallāhu 'anhu- duduk di hadapan mereka. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberinya kabar gembira berupa Surga beserta musibah yang akan menimpanya. Musibah ini adalah tindakan orang-orang yang berselisih dengannya dan memberontak kepadanya, serta tindakan mereka membunuhnya di rumahnya -raḍiyallāhu 'anhu-. Para pemberontak tersebut masuk ke rumahnya di Madinah dan membunuhnya pada saat dirinya sedang membaca Alquran dan Kitabullah berada di hadapannya.
Dari Abu Sa'īd al-Khudri ia berkata, Aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sebaik-baik majelis adalah yang paling lapang."
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadHadis tersebut menunjukkan tentang keutamaan majelis yang lapang karena majelis-majelis yang lapang termasuk sebaik-baik majelis. Sebab, jika majelis tersebut lapang (luas) maka dapat menampung banyak orang sehingga terdapat di dalamnya kelegaan dan kelapangan dada. Dan ini tergantung keadaan, karena terkadang sebagian ruangan rumah orang sempit, namun jika memungkinkan ruangannya lapang maka itu lebih baik berdasarkan alasan di atas.