





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwasanya seorang pria berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin melakukan perjalanan, maka berilah aku wasiat.” Beliau pun bersabda, “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, dan bertakbir pada setiap tempat yang tinggi.” Maka ketika pria itu pergi, beliau berdoa, “Ya Allah! Persingkatlah untuknya jarak yang jauh, dan ringankanlah perjalanannya.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadSeorang pria hendak melakukan perjalanan, maka ia berkata: “Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat.” Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun memberinya wasiat agar berkomitmen dengan takwa kepada Allah -'Azza wa Jalla-, serta bertakbir dengan nama Allah -'Azza wa Jalla- pada setiap ketinggian dan dataran yang tinggi. Maka ketika orang itu pergi, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendoakannya agar diberikan kemudahan, baik berupa semangat maupun kendaraan yang baik yang dapat mengantarnya dengan tenang, serta agar perjalanannya dimudahkan dan dapat perlindungan dari segala pengganggu.
Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang yang sakit, dan bebaskanlah orang yang tertawan."
HR. BukhariNabi ﷺ menjelaskan bahwa di antara hak muslim atas saudaranya sesama muslim adalah memberi makan orang yang lapar, menjenguk yang sedang sakit, serta membebaskan yang ditawan.
Abu Umāmah al-Bāhiliy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Pernah disebutkan kepada Rasulullah ﷺ tentang dua orang, salah satunya ahli ibadah sedangkan yang lainnya ahli ilmu, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian." Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, sampai semut di lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar berselawat bagi seorang yang mengajarkan manusia kebaikan."
HR. TirmiziDisebutkan kepada Rasulullah ﷺ tentang dua orang, salah satunya ahli ibadah, sedangkan yang lain ahli ilmu, maka siapakah di antara mereka yang paling utama? Beliau ﷺ lantas bersabda, "Keutamaan seorang yang berilmu tentang ilmu-ilmu syariat serta mengamalkan dan mengajarkannya atas ahli ibadah yang konsentrasi ibadah serta mengetahui ilmu yang diwajibkan padanya, seperti keutamaan dan kemuliaan beliau ﷺ atas sahabat yang paling rendah." Kemudian beliau ﷺ menjelaskan sebabnya, yaitu Allah Ta'ala, para malaikat pemikul Arasy, dan semua malaikat penghuni langit, serta penduduk bumi dari kalangan manusia, jin dan semua hewan, hingga semut di dalam lubang tempat tinggalnya dalam perut bumi, dan hingga ikan di lautan, sehingga mencakup semua hewan darat dan laut, semuanya mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan manusia ilmu agama yang mengandung keselamatan dan kebahagiaan mereka.
Ḥużaifah bin Yamān -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi Muhammad ﷺ bila ingin tidur, beliau meletakkan tangan di bawah kepala lalu mengucapkan, "Allāhumma qinī 'ażābaka yauma tajma'u -aw tab'aṡu- 'ibādaka." Artinya: "Ya Allah, jagalah diriku dari siksa-Mu pada hari Engkau mengumpulkan -atau membangkitkan- hamba-hamba-Mu."
HR. TirmiziNabi ﷺ ketika hendak tidur, beliau menjadikan tangannya sebagai bantalan dan meletakkan pipi kanan di atasnya, lalu membaca: Allāhumma, artinya: ya Allah, ya Tuhanku. Qinī, artinya: lindungilah aku, yaitu peliharalah aku dari ... 'Ażābaka, artinya: siksa-Mu. Yauma tajma'u -aw tab'aṡu- 'ibādaka, artinya: pada hari Engkau mengumpulkan -atau membangkitkan- hamba-hamba-Mu, yakni hari perhitungan amal atau hari Kiamat.
Dari Ṭalḥah bin 'Ubaidillah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila melihat hilal (bulan sabit), beliau berdoa, "Ya Allah! Perlihatkanlah bulan sabit itu kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah, (jadikanlah dia) sebagai hilal petunjuk dan kebaikan."
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiṬalḥah bin 'Ubaidillah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila melihat hilal (bulan sabit) di malam pertama, kedua atau ketiga, beliau mengucapkan doa agung berikut ini, yang mencakup permohonan kepada Allah -Ta'āla- agar memunculkan hilal dengan rasa aman dari berbagai ketakutan dalam urusan agama dan dunia, kelanggengan dan keteguhan iman, dan mencegah hal yang dapat menyimpang darinya. Doa ini juga mengandung permohonan keselamatan dan keislaman. Penyebutan rasa aman dan keselamatan mengisyaratkan permohonan supaya dihindarkan dari segala marabahaya, dan penyebutan keimanan dan keislaman mengisyaratkan permohonan untuk mendatangkan segala manfaat. Selanjutnya beliau mengakhiri doa tersebut dengan berbicara kepada hilal dengan sabdanya, "Rabbku dan Rabbmu adalah Allah," sebagai isyarat menyucikan Allah dari adanya keikutsertaan selain-Nya dalam mengatur makhluk-Nya, sambil berdoa kepada Allah -Ta'āla- agar menjadikannya sebagai hilal petunjuk dan kebaikan.
Dari Ubay bin Ka'ab -raḍiyallāhu 'anhu-, "Apabila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bangun kemudian bersabda, "Hai sekalian manusia, ingatlah Allah, telah datang guncangan besar yang diikuti oleh peristiwa dahsyat. Kematian itu datang dengan berbagai kesusahannya, kematian itu datang dengan berbagai kesusahannya." Aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku banyak berselawat kepadamu, maka berapa banyak aku harus berselawat untukmu?" Beliau menjawab, "Sekehendakmu saja." Aku bertanya, "Seperempat?" Beliau menjawab, "Sekehendakmu, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik bagimu." Aku bertanya lagi, "Bagaimana kalau setengahnya?' Beliau menjawab, "Sekehendakmu, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik lagi untukmu." Aku bertanya lagi, "Kalau begitu, dua pertiganya bagaimana?" Beliau menjawab, "Sekehendakmu saja, tetapi kalau engkau tambah maka itu lebih baik untukmu." Aku berkata, "Aku akan menjadikan semua selawat untukmu." Beliau bersabda, "Jika demikian maka akan dihilangkan keprihatinanmu serta diampuni dosamu."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadDi awal hadis disebutkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- apabila bangun di sepertiga malam, beliau bersabda untuk mengingatkan umatnya dari kelalaian dan mengajaknya untuk mengerjakan sesuatu yang mengantarkannya pada keridaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berupa kesempurnaan rahmat-Nya, "Hai sekalian manusia, ingatlah Allah (berzikirlah)!" yakni, dengan lisan dan hati agar membawa apa yang dapat diraih dari buah zikir berupa memperbanyak kebajikan dan meninggalkan yang lainnya. Dalam hadis itu juga disebutkan bahwa penanya mempunyai doa yang selalu diulangi untuk dirinya, maka ia bisa menjadikan sepertiga doanya untuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Selawat kepadanya adalah doa, dan mungkin saja doa itu setengahnya untuk beliau, atau juga seluruh doanya untuk beliau. Seperti berselawat kepadanya sebagai ganti berdoa untuknya. Dalam hadis disebutkan bahwa Siapa yang berselawat kepada Nabi satu kali, maka Allah berselawat kepada orang itu sepuluh kali." HR. Muslim dari hadis Abu Hurairah, sehingga pahala selawatnya cukup untuknya. Karena itu, beliau bersabda, "Jika demikian maka akan dihilangkan keprihatinanmu serta diampuni dosamu." Yakni, sesungguhnya engkau hanya meminta hilangnya sebab bahaya yang meninggalkan kesedihan dan menyebabkan dosa. Jika engkau berselawat kepadaku sebagai ganti doamu, maka tercapailah maksudmu. Mungkin juga maksud hadis ini adalah memasukkan Nabi dalam doanya. Seolah-olah orang tersebut berkata, "setiap kali aku berdoa maka aku berselawat untukmu". Ini bukan berarti cukup berselawat saja tanpa perlu berdoa, tetapi maksudnya adalah menggabungkan keduanya, sebagai bentuk pengamalan semua nas-nas yang ada.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anha-, ia berkata, "Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq -raḍiyallāhu 'anhu- mempunyai seorang hamba sahaya lelaki yang memberikan hasil usaha kepadanya. Abu Bakar makan hasil hasil usaha tersebut. Pada suatu hari, hamba sahaya itu datang kepadanya dengan membawa sesuatu, kemudian Abu Bakar memakannya. Lantas hamba sahaya itu berkata kepada Abu Bakar, "Apakah Anda tahu, hasil dari apakah ini?" Abu Bakar balik bertanya, "Hasil apa ini?" Hamba sahaya itu menjawab, "Dahulu pada zaman jahiliah aku berpura-pura menjadi dukun bagi seseorang, padahal aku sendiri sebenarnya tidak mengerti perdukunan, aku hanya menipunya saja. Tadi ia menemuiku lalu memberikan kepadaku apa yang telah Anda makan." Seketika itu juga Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam kerongkongannya lalu memuntahkan segala apa yang ada dalam perutnya."
Diriwayatkan oleh BukhariHamba sahaya Abu Bakar ini telah sepakat untuk bekerja dan membagi hasilnya sejumlah tertentu dan membawanya setiap hari kepada Abu bakar. Suatu hari budak tersebut memberikan makanan kepada Abu Bakar lalu ia memakannya. Hamba sahaya itu bertanya, "Apakah Anda tahu, hasil dari apakah makanan ini?" Abu Bakar balik bertanya, "Hasil apa ini?" Hamba sahaya itu menjawab, "Ini adalah imbalan dari upah perdukunan yang aku lakukan di zaman jahiliah. Padahal aku sendiri tidak mengerti perdukunan. Aku hanya menipunya saja. Tadi ia menemuiku dan memberiku imbalan". Upah perdukunan adalah haram, baik dukun tersebut pandai dalam perdukunan atau tidak. Sebab, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang memakan upah dukun. HR. Bukhari dan Muslim. Setelah hamba sahaya itu mengatakan demikian, Abu Bakar pun segera memasukkan tangannya ke mulutnya dan memuntahkan semua yang telah dimakannya, supaya dia tidak mengisi perutnya dengan sesuatu yang haram. Yang dimakannya itu adalah harta haram karena merupakan imbalan dari yang haram. Upah suatu perbuatan haram adalah haram.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Unta Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang bernama Al-'Aḍbā` tidak pernah kalah atau hampir tidak bisa dikalahkan. Kemudian ada seorang Badui yang mengendarai untanya dan dapat mendahului unta beliau, maka hal itu cukup menggelisahkan kaum muslimin. Kemudian hal ini diketahui Rasulullah, beliau pun bersabda, "Menjadi kepastian bagi Allah, siapa saja di dunia ini yang menyombongkan diri, Allah pasti akan merendahkannya."
Bukhari meriwayatkannya seperti iniDi dalam hadis ini disebutkan bahwa unta Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang bernama Al-'Aḍbā` dipandang oleh para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- sebagai kuda yang tak pernah terkalahkan atau hampir tidak bisa dikalahkan. Kemudian datang seorang Badui dengan mengendarai untanya lalu dapat mendahului Al-'Aḍbā`. Seakan-akan hal ini menggelisahkan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda setelah mengetahui keadaan diri mereka, "Menjadi kepastian bagi Allah, siapa saja di dunia ini yang menyombongkan diri, Allah pasti akan menjatuhkannya." Setiap ketinggian yang ada di dunia, maka akan kembali pada kerendahan. Jika ketinggian ini disertai kesombongan dalam jiwa dan terdeteksi dalam jiwa, maka kehinaan akan lebih cepat mendatanginya. Sebab, kehinaan itu adalah balasan. Sedangkan jika tidak disertai kesombongan, maka tentu ia akan kembali datar dan rendah. Dalam sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "di dunia," merupakan dalil bahwa urusan akhirat yang tinggi tidak akan direndahkan oleh Allah. Dengan demikian, firman Allah, " niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." Maka mereka tidak akan direndahkan oleh Allah -'Azza wa Jalla- selama mereka memiliki sifat ilmu dan iman. Sungguh Allah tidak akan merendahkan mereka, tetapi mengangkat sebutan mereka dan derajat mereka di akhirat.
Dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Apabila kami mendaki maka kami bertakbir dan apabila kami turun maka kami bertasbih." Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, "Apabila Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan tentaranya naik ke bukit-bukit, mereka bertakbir. Apabila mereka turun, mereka bertasbih."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Diriwayatkan oleh Abu DaudKorelasi takbir saat naik ke tempat tinggi karena arogansi dan ketinggian disukai oleh jiwa, serta di dalamnya terdapat unsur keangkuhan sehingga jiwanya merasa besar. Karena itu, ia mengucapkan, "Allah Maha Besar." Yakni, agar mengembalikan jiwanya kepada kehinaan. Sedangkan keangkuhan adalah milik Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Karena itu, bagi siapa yang merasa tinggi diperintahkan untuk segera menyebut keagungan Allah -Ta'ālā- dan Dia lebih besar dari segala sesuatu. Ia mengagungkan Allah untuk mensyukuri-Nya sehingga Allah menambahkan karunia-Nya. Korelasi tasbih saat turun karena tempat rendah adalah titik kesempitan sehingga ia pun diperintahkan untuk bertasbih. Sebab, tasbih adalah salah satu sebab kelapangan. Hal ini sebagaimana terjadi dalam kisah Yunus -'Alaihissalām- saat bertasbih di kegelapan, lalu ia pun diselamatkan dari kesusahan. Turun juga merupakan kerendahan, kesempitan dan kehinaan. Ia mengucapkan, "Subḥānallāh (Mahasuci Allah), artinya aku menyucikan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dari kerendahan dan penurunan, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- itu di atas segala sesuatu. Diantara adab yang disunahkan yang berasal dari petunjuk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, bahwa jika engkau naik, ucapkanlah: "Allah Maha Besar." Jika engkau menuruni lembah, engkau mengucapkan, "Mahasuci Allah." Demikian juga pesawat ketika naik, penumpang bertakbir, dan ketika mendarat di bandar, penumpang bertasbih. Sebab, tidak ada beda antara posisi naik di udara dan turun darinya atau posisi di atas bumi. Hanya Allah Pemberi taufik.