





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- secara marfū', "Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk pemimpin, Dia menjadikan untuknya seorang ajudan (menteri) yang jujur. Jika ia lupa, ajudan itu mengingatkannya dan jika ia ingat, ajudan itu menolongnya. Dan apabila Allah menghendakinya selain itu, Dia menjadikan untuknya ajudan (menteri) yang jahat. Jika ia lupa, ajudan itu tidak mengingatkannya dan jika ia ingat, ajudan itu tidak menolongnya."
Diriwayatkan oleh Abu DaudRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan dalam hadis ini bahwa Allah -Ta'ālā- “Apabila menghendaki kebaikan untuk pemimpin”. Kebaikan bagi orang yang diberi taufik untuk mendapatkan menteri yang jujur dari kalangan umara ditafsirkan sebagai kebaikan taufik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di samping kebaikan ini juga ditafsirkan dengan Surga. Sabda beliau, “Dia menjadikan untuknya ajudan (menteri) yang jujur”, yakni dalam ucapan dan perbuatan, lahir dan batin. Beliau menyandarkannya pada kejujuran, karena sifat ini merupakan prinsip dalam pertemanan dan lainnya. Lalu “jika ia lupa”, maksudnya pemimpin itu. Jika ia lupa pada apa yang ia butuhkan –lupa adalah tabiat manusia-, menyimpang dari hukum syari'at, keliru dalam menangani perkara orang yang dizalimi, atau maslahat-maslahat rakyat, maka ajudan yang jujur ini “mengingatkannya” dan menunjukinya. “Dan jika ia ingat”, yakni pemimpin itu ingat, “ajudan itu menolongnya” dengan memberikan pendapat, perkataan dan perbuatan. Sedang sabda beliau, “Dan apabila Allah menghendakinya selain itu”, yakni selain kebaikan, dengan menghendaki keburukan untuknya, maka hasilnya, “Dia mejadikan untuknya ajudan jahat”. Maksudnya, ajudan yang jahat dalam perkataan dan perbuatan, kebalikan dari yang sebelumnya. "Jika ia lupa" yakni, pemimpin meninggalkan apa yang harus dilakukan, "ajudannya itu tidak mengingatkannya" akan perkara itu. Sebab ajudan ini tidak memiliki cahaya hati yang bisa mendorongnya untuk mengingatkan. "Dan jika ia ingat, ajudan itu tidak menolongnya", bahkan ia berusaha memalingkannya; karena keburukan tabiat dan kejahatan perbuatannya.
Dari Abu Sa'īd Al-Khudri dan Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhumā- secara marfū', "Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi dan mengangkat seorang khalifah melainkan dia mempunyai dua orang kepercayaan: satu orang kepercayaan yang menyuruh dan mendorongnya kepada yang makruf, dan satu orang kepercayaan yang menyuruh dan mendorongnya kepada kejahatan. Orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah."
Diriwayatkan oleh BukhariNabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- memberitahukan bahwa tidaklah Allah mengutus seorang Nabi dan mengangkat seorang khalifah melainkan dia mempunyai dua orang kepercayaan: satu orang kepercayaan yang baik, yang menyuruh dan mendorongnya kepada kebaikan, dan satu orang kepercayaan yang jahat, yang menunjukkan dan menyuruhnya kepada keburukan. Orang yang dijaga dari pengaruh orang kepercayaan yang jahat adalah orang yang dijaga oleh Allah -Ta'ālā-.
Dari Syaqīq bin Salamah –raḥimahullāhu-, ia berkata, dahulu Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- menasehati kami setiap hari kamis. Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, "Wahai Abu Abdirrahman, sungguh aku sangat menginginkan engkau menasehati kami setiap hari." Dia pun berkata, "Sesungguhnya yang mencegahku untuk melakukan hal tersebut adalah karena aku tidak ingin membuat kalian merasa bosan, sehingga aku menyampaikan nasehat kepada kalian secara berkala, sebagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyampaikannya kepada kami dengan cara demikian karena khawatir kami merasa bosan."
Muttafaq 'alaihSyaqīq bin Salamah -raḥimahullāhu- mengabarkan bahwa Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- menasehati mereka setiap hari kamis, lalu seorang lelaki berkata kepadanya, "Sesungguhnya kami sangat senang jika engkau menasehati kami setiap hari." Beliau menjawab, "Sesungguhnya yang mencegahku untuk melakukan hal tersebut adalah karena aku tidak ingin membuat kalian merasa jenuh dan jemu. Aku berkomitmen untuk menasihati dan memantau kebutuhan kalian terhadap nasehat tersebut sebagaimana Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melakukan hal itu terhadap kami, karena beliau khawatir akan membuat kami merasa bosan, karena nasehat yang disampaikan pada saat kondisi bosan tidak akan memberikan pengaruh."
Ṣuḥaib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada seorang raja yang hidup sebelum kalian. Ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada raja, 'Aku telah tua, maka kirimlah seorang pemuda kepadaku agar aku dapat mengajarinya sihir.' Lalu raja mengirim seorang pemuda kepadanya. Dalam perjalanannya, pemuda tersebut melewati seorang pendeta. Ia pun menemuinya dan mendengar nasihat-nasihatnya, lalu ia pun menyukainya. Setiap kali hendak pergi ke tukang sihir, ia pasti melewati pendeta itu dan duduk mendengarkan ajarannya. Apabila ia datang terlambat, tukang sihir memukulnya. Ia pun mengeluhkan hal itu kepada pendeta. Pendeta berkata, 'Jika engkau takut dipukul tukang sihir, katakan, 'Keluargaku menahanku.' Namun, jika engkau takut pada keluargamu (karena terlambat pulang), katakan, 'Si tukang sihir menahanku.' Pada suatu hari, dalam keadaan seperti biasa, tiba-tiba ia menjumpai seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia berkata, 'Hari ini aku akan mengetahui siapa yang lebih utama, tukang sihir ataukah pendeta?' Lalu ia mengambil sebuah batu lalu berdoa, 'Ya Allah, jika ajaran pendeta lebih Engkau sukai daripada ajaran tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat.' Ia pun melemparnya dengan batu tersebut dan berhasil membunuhnya. Orang-orang pun bisa lewat. Kemudian ia mendatangi pendeta dan menceritakan peristiwa itu. Pendeta berkata, 'Wahai anakku, hari ini engkau lebih unggul daripadaku. Aku melihat engkau telah mencapai derajat yang tinggi dan engkau pasti akan diuji. Jika engkau diuji, maka jangan menyebutkan namaku.' Pemuda itu dikaruniai kemampuan mengobati orang yang buta dan belang, serta mengobati orang banyak dari berbagai penyakit lainnya. Salah seorang menteri raja yang buta mendengar kehebatan pemuda itu. Ia pun datang dengan membawa banyak hadiah seraya berkata, 'Semua yang ada di sini menjadi milikmu jika engkau bisa menyembuhkanku.' Pemuda itu berkata, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada-Nya, lalu Dia akan menyembuhkanmu.' Akhirnya Sang menteri beriman kepada Allah, dan Allah pun menyembuhkannya. Kemudian ia kembali ke istana dan duduk di sisi raja seperti biasanya. Raja berkata, 'Siapa yang menyembuhkan matamu?' Ia menjawab, 'Tuhanku.' Raja berkata, 'Engkau memiliki Tuhan selain aku?' Ia berkata, 'Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.' Lalu raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyampaikan perihal pemuda itu. Pemuda itu kemudian dijemput dan dibawa menghadap raja. Raja berkata, 'Wahai anakku, ilmu sihirmu sungguh tinggi sampai bisa menyembuhkan orang buta dan belang, serta engkau bisa melakukan ini dan itu.' Namun pemuda itu menjawab, 'Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Hanya Allah yang dapat menyembuhkan.' Lalu raja menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyebutkan nama sang pendeta. Pendeta pun didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Namun ia menolak. Maka raja meminta gergaji, lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya, kemudian dia dibelah hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Setelah itu, menteri raja didatangkan dan dikatakan kepadanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja meminta gergaji lalu diletakkan tepat di tengah kepalanya sampai ia terbelah dua hingga kedua sisi tubuhnya jatuh. Selanjutnya pemuda itu didatangkan dan dikatakan padanya, 'Tinggalkan agamamu!' Ia pun menolak. Maka raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya dan berpesan, 'Bawalah ia ke gunung ini dan ini. Bawalah ia naik. Jika di puncaknya ia mau meninggalkan agamanya, lepaskan dia. Jika tidak, lemparkan dia dari atas.' Mereka pun membawanya naik hingga ke puncak gunung. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, Selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Gunung itu pun mengguncang mereka hingga jatuh. Pemuda itu lalu datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi dengan orang-orang yang membawamu?' Pemuda itu menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Lalu raja menyerahkannya ke kelompok tentara yang lain. Raja berkata, 'Bawalah ia pergi ke tengah laut, lalu naikkan ia ke sebuah perahu. Jika ia mau meninggalkan agamanya, bawalah ia pulang. Namun jika ia tidak, lemparkan dia.' Mereka pun membawanya ke tengah laut. Pemuda itu berdoa, 'Ya Allah, selamatkan aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki.' Perahu itu akhirnya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pun datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, 'Apa yang terjadi pada orang-orang yang membawamu?' Ia menjawab, 'Allah telah menyelamatkanku dari mereka.' Maka ia berkata kepada raja, 'Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mau melakukan apa yang aku perintahkan.' Raja bertanya, 'Apa yang kau perintahkan?' Pemuda itu berkata, 'Engkau kumpulkan semua orang di satu tanah lapang. Lalu salib aku pada batang kayu. Lalu ambil satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan di tengah busur, lalu ucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian bidiklah aku. Jika engkau melakukannya pasti engkau bisa membunuhku.' Raja pun mengumpulkan orang-orang di satu tanah lapang dan menyalib pemuda itu pada batang kayu. Kemudian ia mengambil satu anak panah dari tempat anak panahnya, selanjutnya meletakkan anak panah itu di tengah-tengah busur. Kemudian ia mengucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Kemudian ia membidiknya hingga anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Pemuda itu meletakkan tangannya tepat di tempat panah menancap, lalu ia meninggal dunia. Orang-orang pun berkata, 'Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu. Kami beriman pada Tuhan pemuda itu.' Lalu Raja didatangi dan diberi laporan, 'Tahukah Anda apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan telah terjadi. Orang-orang telah beriman.' Sebab itu, raja memerintahkan pembuatan parit di jalanan. Parit-parit pun dibuat dan api dinyalakan di dalamnya. Raja berkata, 'Siapa yang tidak mau meninggalkan agamanya, lemparkan dia ke dalamnya.' Atau dikatakan padanya, 'Masuklah.' Mereka pun melaksanakan perintah tersebut. Hingga datang giliran seorang wanita yang membawa bayinya. Ia mundur agar tidak terjatuh dalam parit api. Maka bayi itu berkata, 'Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.'"
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa dahulu ada seorang raja di tengah umat sebelum kita. Dia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada raja, "Aku telah tua, maka kirimlah kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajari sihir." Raja pun mengirim seorang pemuda kepadanya untuk diajar. Di jalan yang dilalui oleh pemuda itu ke tukang sihir, ada seorang pendeta. Suatu saat, ia datang menemuinya dan mendengarkan nasihat-nasihatnya, dan ternyata ia menyukainya. Akhirnya, jika ia pergi ke tukang sihir, ia selalu melewati pendeta tersebut dan duduk menyimak pelajarannya. Ketika dia datang terlambat, tukang sihir itu memukulnya. Ia pun mengeluhkan hal itu ke pendeta. Pendeta berkata, "Jika kamu takut kepada tukang sihir, katakan, 'Aku ditahan oleh keluargaku.' Namun, jika kamu takut keluargamu, katakan, 'Aku ditahan oleh tukang sihir.'" Suatu hari, ketika ia beraktivitas seperti biasanya, tiba-tiba ia menjumpai seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang banyak. Ia pun berkata, "Hari ini aku akan tahu, siapakah yang lebih utama, tukang sihir ataukah pendeta?" Ia pun mengambil sebuah batu lalu berdoa, "Ya Allah, jika ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai daripada ajaran tukang sihir, bunuhlah binatang ini, agar orang-orang dapat lewat." Ia pun melemparnya dan berhasil membunuhnya, sehingga orang-orang pun berhasil lewat. Ia kemudian datang menemui pendeta dan mengabarinya. Pendeta berkata, "Anakku, hari ini engkau telah mengungguliku. Aku melihat urusanmu telah mencapai puncak. Kamu pasti akan diuji. Jika kamu diuji, janganlah engkau menyebut namaku." Pemuda tersebut lalu dianugerahi kemampuan menyembuhkan orang buta dan kusta, serta mengobati orang banyak dari berbagai penyakit lainnya, dengan izin Allah. Seorang menteri raja yang kehilangan penglihatan mendengar beritanya. Ia pun menemuinya dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, "Semua hadiah yang ada di sini menjadi milikmu jika kamu menyembuhkanku." Pemuda itu menjawab, "Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman kepada Allah, aku akan berdoa kepada Allah, dan Allah akan menyembuhkanmu." Ia pun beriman kepada Allah, lalu Allah menyembuhkannya. Ia kemudian datang menemui raja dan duduk di sisinya sebagaimana biasanya. Raja berkata, "Siapa yang memulihkan penglihatanmu?" Ia menjawab, "Tuhanku." Sontak raja berkata, "Apakah kamu punya Tuhan selainku?" Ia menjawab, "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menyebutkan nama pemuda itu. Pemuda itu pun dihadirkan. Raja berkata, "Anakku, sihirmu telah mampu menyembuhkan orang buta dan kusta, serta engkau mampu melakukan ini dan itu." Ia menjawab, "Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanya Allah." Raja pun menahannya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan nama pendeta. Sang pendeta pun didatangkan, lalu dikatakan kepadanya, "Tinggalkanlah agamamu!" Namun ia menolak. Raja pun meminta gergaji lalu meletakkannya di bagian tengah kepalanya dan membelahnya menjadi dua bagian. Kemudian giliran menteri raja dihadirkan. Dikatakan kepadanya, "Tinggalkan agamamu!" Namun ia menolak. Lalu raja meletakkan gergaji di bagian tengah kepalanya lalu membelahnya menjadi dua bagian. Selanjutnya si pemuda dihadirkan. Dikatakan kepadanya, "Tinggalkan agamamu!" Ia pun menolak. Maka raja menyerahkannya kepada sekelompok tentaranya, sekitar 3-10 orang. Raja berpesan, "Bawa dia ke sebuah gunung, lalu bawa dia ke atas gunung itu. Setelah sampai di puncak, bebaskan dia kalau ia mau meninggalkan agamanya. Jika tidak, jatuhkan dia dari atas." Mereka pun membawanya naik ke atas gunung itu. Pemuda itu berdoa, "Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki." Gunung itu pun mengguncang mereka dan bergoyang dahsyat sehingga mereka jatuh. Lalu pemuda itu datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, "Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bersamamu?" Ia menjawab, "Allah melindungiku dari mereka." Raja kemudian menyerahkannya kepada tentaranya yang lain. Ia berpesan, "Bawalah ia pergi. Naikkan ia ke perahu kecil lalu berlayar ke tengah lautan. Bebaskan dia jika dia mau meninggalkan agamanya. Jika tidak, lemparkan dia ke laut." Mereka pun membawanya pergi. Pemuda itu berdoa, "Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan cara apa saja yang Engkau kehendaki." Perahu itu pun terbalik sehingga mereka tenggelam. Lalu ia datang berjalan menemui raja. Raja bertanya, "Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bersamamu?" Ia menjawab, "Allah telah menyelamatkanku dari mereka." Pemuda itu berkata kepada raja, "Engkau tidak akan bisa membunuhku hingga melakukan apa yang aku perintahkan." Raja bertanya, "Apa itu?" Ia berkata, "Kumpulkan orang banyak di satu tempat terbuka. Salib aku di sebatang kayu. Ambil satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan anak panah di pegangan busur, lalu ucapkan, 'Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini.' Setelah itu, bidiklah aku. Jika itu engkau lakukan, engkau akan dapat membunuhku." Lalu raja pun mengumpulkan orang banyak di satu tempat dan menyalibnya di satu batang kayu. Kemudian ia mengambil satu anak panah dari tempat anak panah pemuda itu. Kemudian diletakkannya anak panah itu di bagian tengah busur seraya mengucapkan, "Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini." Kemudian ia membidiknya. Anak panah pun tepat mengenai pelipisnya, di antara mata dengan telinganya. Seketika ia meletakkan tangannya di tempat anak panah, dan ia pun meninggal dunia. Orang-orang pun berkata, "Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini. Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini. Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini." Lantas raja pun didatangi. Dikatakan kepadanya, "Tahukah Anda tentang apa yang Anda khawatirkan? Demi Allah, apa yang Anda khawatirkan telah terjadi. Orang-orang mengikuti pemuda itu dan beriman semuanya kepada Tuhannya." Raja pun memerintahkan untuk menggali parit-parit besar yang memanjang di pintu-pintu jalan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, "Siapa saja yang tidak meninggalkan agamanya, jatuhkan ia ke dalamnya." Mereka pun melaksanakan perintah raja. Hingga datang seorang wanita dengan membawa anak bayinya. Ia berhenti dan diam di tempatnya. Ia tidak mau masuk ke dalam api. Tetapi anak bayinya berkata, "Ibuku, bersabarlah. Sungguh, engkau berada di atas kebenaran."
Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadaku, "Wahai Abu Żar, sesungguhnya aku melihatmu orang yang lemah, dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku. Janganlah engkau menjadi pemimpin atas dua orang dan janganlah pula engkau mengurus harta anak yatim!"
Diriwayatkan oleh MuslimAbu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepadanya, "Sesungguhnya aku melihatmu sebagai orang yang lemah, dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku. Janganlah engkau menjadi pemimpin atas dua orang dan janganlah pula engkau mengurus harta anak yatim!" Inilah empat kalimat yang dijelaskan oleh Rasul -'alaihiṣ ṣalātu was salāmu- kepada Abu Żar: Pertama: Beliau bersabda kepadanya, "Sesungguhnya aku melihatmu orang yang lemah." Gambaran yang sesuai dengan realita ini dapat ditafsirkan sebagai nasihat. Maka tidak masalah jika dia mengatakan kepada orang lain, misalnya, "Sesungguhnya dalam dirimu begini dan begitu," sebagai nasihat, bukan sebagai celaan dan cemoohan. Kedua: Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku." Ini merupakan bagian dari akhlak baik Nabi -''alaihiṣ ṣalātu was salāmu-. Sebab, kalimat yang pertama mengandung suatu celaan, maka beliau bersabda, "Sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku." Maksudnya, aku katakan itu karena sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku. Ketiga: "Janganlah engkau memimpin dua orang", yakni, janganlah engkau menjadi pemimpin atas dua orang. Tentu saja jumlah yang lebih dari itu maka lebih tegas lagi larangannya. Artinya bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang Abu Żar menjadi pemimpin karena dia lemah. Sedangkan kepemimpinan itu sendiri membutuhkan orang yang kuat dan terpercaya. Kuat karena dia memiliki kekuasaan dan kata-kata yang tajam; jika dia berkata, dia mengerjakannya dan tidak lemah di hadapan manusia. Sebab, manusia itu apabila telah menganggap seseorang lemah, maka tidak akan ada lagi penghormatan mereka kepadanya, dan orang-orang bodoh pun akan berani kepadanya. Tetapi jika dia pemberani tanpa melampaui batasan-batasan Allah -'Azza wa Jalla- dan tidak lalai dengan kekuasaan yang telah Allah berikan kepadanya, maka inilah pemimpin sejati. Keempat: "Dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim." Anak yatim adalah anak yang telah ditinggal bapaknya sebelum usia balig. Rasul -'alaihiṣ ṣalātu was salāmu- melarang Abu Żar untuk mengurus harta anak yatim karena harta anak yatim itu membutuhkan penjagaan. Sementara itu Abu Żar adalah orang lemah yang tidak akan mampu menjaga harta ini dengan sebenar-benarnya. Karena itulah beliau bersabda, "Dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim." Yakni, janganlah engkau menjadi wali hartanya dan biarkanlah untuk selainmu. Ini tidak berarti penghinaan terhadap Abu Żar. Sebab, ia sendiri sudah biasa menyuruh kepada yang makruf dan melarang kemungkaran di tambah lagi dengan sikap zuhud dan hidup berkekurangan. Hanya saja ia lemah dalam satu hal tertentu, yaitu dalam hal kepengurusan dan kepemimpinan.
Dari Abu Żar -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberiku kekuasaan (jabatan)?' Beliau memegang pundakku dengan tangannya lalu bersabda, 'Wahai Abu Żar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah dan kekuasaan itu adalah amanah. Sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.'"
Diriwayatkan oleh MuslimAbu Żar mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengkhususkan nasehat untuknya mengenai kepemimpinan dan jabatannya. Hal ini terjadi ketika dia - raḍiyallāhu 'anhu- meminta kepada beliau agar mengangkatnya sebagai gubernur. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya engkau orang yang lemah." Sabda ini mengandung semacam ketegasan, akan tetapi amanah itu harus dijelaskan kepada orang sesuai dengan keadaan orang itu; jika dia kuat, maka ia akan kuat (mengembannya), dan jika dia lemah, maka lemah pula (dalam mengembannya). Ini mengandung dalil bahwa syarat berkuasa itu harus orang yang kuat dan terpercaya (amanah) karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya kekuasaan itu amanah," Jika seseorang itu kuat dan terpercaya maka inilah sifat-sifat yang membuatnya berhak menjadi pemimpin dan penguasa. Jika ia kuat tapi tidak terpercaya atau terpercaya tapi tidak kuat atau lemah tidak terpercaya, maka ketiga macam orang ini tidak selayaknya menjadi seorang pemimpin. Atas dasar itu, kita harus mengangkat pemimpin yang kuat, karena dia orang yang paling bermanfaat bagi manusia. Sesungguhnya manusia itu membutuhkan kekuasaan dan kekuatan. Jika kekuasaan tidak dibarengi kekuatan, apalagi dengan kelemahan agama, maka segala hal akan hilang. Hadis ini merupakan dasar yang agung dalam menghindari kekuasaan, apalagi bagi orang yang memiliki kelemahan untuk melaksanakan tugas-tugas kekuasaan ini. Adapun kehinaan dan penyesalan yang disebutkan dalam hadis, dalam sabdanya, "Sesungguhnya kepemimpinan itu pada hari kiamat adalah kehinaan dan penyesalan," adalah bagi orang yang tidak layak untuk menerima kekuasaan atau layak berkuasa tetapi tidak berlaku adil dalam kekuasaannya. Dengan demikian, Allah -Ta'ālā- menjadikannya hina pada hari kiamat dan membuka aibnya sehingga dia pun menyesali apa yang telah dilakukannya. Adapun orang yang layak untuk berkuasa dan adil dalam kekuasaannya, maka tidak termasuk dalam ancaman ini. Karena itulah, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberi pengecualian, "Kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya." Sebab, orang yang mengambil kekuasaan dengan hak, baginya keutamaan besar sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis sahih, seperti hadis mengenai tujuh orang yang dinaungi Allah dalam naungan-Na, disebutkan diantara mereka adalah "pemimpin yang adil", dan hadis bahwa orang-orang yang berlaku adil berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, dan sebagainya.
Dari 'Uqbah bin Al-Hāriṡ -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku pernah melaksanakan salat Asar di belakang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di Madinah. Beliau mengucapkan salam lalu berdiri dengan cepat kemudian melewati leher-leher manusia menuju ke salah satu kamar istrinya. Tentu saja orang-orang ketakutan dengan gerakan cepatnya. Lantas beliau keluar menemui mereka lalu melihat mereka heran dengan gerakan cepatnya. Beliau bersabda, "Aku teringat sebuah emas yang ada pada kami, maka aku tidak suka batang emas itu menahanku. Lantas Aku pun menyuruh untuk membagikannya." Dalam riwayat lain disebutkan, "Aku meninggalkan sebuah emas dari sedekah di rumah, lalu aku tidak suka mendiamkannya."
Diriwayatkan oleh BukhariUqbah bin Al-Hāriṡ -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan bahwa suatu hari dirinya salat Asar bersama Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Usai salat, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berdiri meninggalkan tempatnya dengan cepat; beliau melewati leher-leher manusia menuju ke salah satu kamar istrinya. Tentu saja orang-orang merasa takut dengan hal itu. Kemudian beliau keluar lalu melihat orang-orang heran dengan tingkah tadi. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjelaskan kepada mereka mengenai sebab hal itu dan memberitahu bahwa dirinya ingat sebuah emas yang belum ditempa yang harus dibagikan. Beliau tidak suka emas itu menahannya dan membuatnya sibuk dengannya sehingga lalai dari menghadap kepada Allah -Ta'ālā-.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku masuk menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama dua orang sepupuku. Lantas salah satu dari keduanya mengatakan, "Wahai Rasulullah! Angkatlah kami sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang Allah -'Azza wa Jalla- kuasakan kepada Anda." Yang lain juga mengatakan ucapan seperti itu. Maka beliau bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya kami tidak menyerahkan pekerjaan (jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi mengejarnya."
Muttafaq 'alaihHadis ini menjelaskan larangan mengangkat orang yang meminta jabatan atau berambisi mendudukinya. Ketika dua orang tersebut meminta kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- agar mengangkat keduanya sebagai pemimpin atas sebagian wilayah yang Allah kuasakan pada beliau, beliau bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya kami tidak menyerahkan pekerjaan (jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi mengejarnya." Artinya, kami tidak mengangkat seorang pun yang meminta dan berambisi menguasai suatu jabatan. Karena orang yang meminta atau berambisi menduduki jabatan tersebut bisa jadi tujuannya ingin menjadikan dirinya berkuasa, bukan berniat memperbaiki manusia. Manakala ia dicurigai memiliki niat ini, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mengangkat orang yang meminta jabatan, dan beliau bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya kami tidak menyerahkan pekerjaan (jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi mengejarnya." Tema ini diperkuat oleh hadis Abdurraḥmān bin Samurah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah engkau meminta jabatan, karena jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong dalam mengembannya. Namun, jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak ditolong)." Jadi, apabila ada orang meminta diangkat untuk memimpin suatu negeri atau wilayah yang membawahi daerah pedalaman atau semacamnya, tidak sepantasnya seorang pemimpin meluluskan permintaannya ini. Meskipun orang yang meminta tersebut layak mengemban jabatan itu. Demikian pula seandainya seseorang meminta jabatan sebagai hakim, ia berkata pada pihak yang berwenang mengurusi masalah pengadilan, seperti menteri kehakiman-misalnya-, “Angkatlah aku sebagai hakim di wilayah tertentu”, maka orang ini tidak boleh diangkat. Adapun orang yang meminta pindah tugas dari satu daerah ke daerah lain atau yang semacamnya, ia tidak termasuk dalam larangan hadis ini. Sebab ia telah menjabat sebelumnya, hanya saja ia meminta ditugaskan di tempat lain. Kecuali bila kita mengetahui ia memiliki niat dan bertujuan menguasai penduduk wilayah tersebut, maka kita perlu menghalanginya. Jadi, segala perbuatan itu tergantung pada niatnya. Jika ada orang mengatakan, “Bagaimana kalian mendudukkan ucapan Nabi Yusuf -'alaihiṣ ṣalātu was salām- pada raja, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan". Kita menjawabnya dengan salah satu dari dua jawaban: Pertama: sesungguhnya syariat umat sebelum kita apabila bertentangan dengan syariat kita maka yang jadi acuan adalah syariat kita. Hal ini berdasarkan kaidah yang dikenal di kalangan ulama usul fikih, “syariat umat sebelum kita adalah syariat kita selagi syariat kita tidak menyebutkan hukum yang menyelisihinya”. Dan ternyata syariat kita telah menyebutkan hukum yang berbeda, bahwa kita tidak boleh menyerahkan jabatan pada orang yang memintanya. Kedua: Nabi Yusuf -'alaihiṣ ṣalātu was salām- melihat persediaan dana menipis dan dana (negara) ini dibuang-buang dan dihambur-hamburkan. Maka ia ingin menyelamatkan negeri dari pemborosan ini. Hal yang seperti ini tujuannya adalah menghilangkan pengelolaan yang buruk dan pelaksanaan yang salah. Sehingga permintaan ini tidak apa-apa. Misalnya, apabila kita melihat pemimpin di suatu wilayah, akan tetapi ia telah menyalah gunakan kepemimpinan dan merusak masyarakat, maka orang yang layak memegang jabatan ini, apabila ia tidak mendapati orang lain, boleh meminta pada pemimpin agar dirinya diangkat sebagai pemimpin wilayah tersebut. Ia bisa mengatakan, “Angkatlah aku sebagai pemimpin wilayah ini, semata-mata untuk menghilangkan keburukan yang terjadi di dalamnya.” Permintaan seperti ini tidak masalah, sejalan dengan kaidah-kaidah. Pun selaras dengan hadis Uṡmān bin Abi Al-`Āṣ bahwa ia pernah berkata kepada Nabi –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, “Jadikan aku imam kaumku” maksudnya imam salat. Beliau bersabda, “Engkau imam mereka.” Sebagian ulama mengatakan, “hadis ini menunjukkan bolehnya meminta jabatan dalam kebaikan.” Dan disebutkan dalam doa hamba-hamba Allah yang Maha penyayang, yang Allah sebutkan dengan kriteria-kriteria tersebut bahwa mereka mengucapkan, “Dan jadikan kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa.” Ini tidak termasuk meminta jabatan yang buruk. Karena larangan meminta jabatan tesebut berkaitan dengan kepemimpinan dunia yang pemintanya tidak akan dibantu mengembannya dan tidak layak dipercaya memegangnya.
Āiż bin Amru -raḍiyallāhu 'anhu- masuk menemui 'Ubaidullah bin Ziyad. Lantas Ia berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya sejelek-jelek penggembala itu adalah yang kejam." Maka jangan sampai engkau menjadi salah seorang dari mereka." 'Ubaidullah berkata, "Duduklah, engkau hanya satu di antara kalangan rendahan sahabat Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Ia berkata, "Adakah pada generasi sahabat orang-orang rendahan? Sesungguhnya orang rendahan hanyalah ada di kalangan orang-orang setelah mereka atau di selain mereka."
Diriwayatkan oleh MuslimĀiż bin Amru -raḍiyallāhu 'anhu- masuk menemui 'Ubaidullah bin Ziyad, gubernur penduduk Irak setelah ayahnya. Ia berkata, "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya seburuk-buruk penggembala adalah Al-ḥuṭamah." Al-Ḥuṭamah adalah orang yang kejam dalam mengurus unta, baik saat menggiring, memasukkan, mengeluarkan, membenturkan sebagian dengan sebagian yang lain, dan kasar terhadap unta. Beliau menjadikannya perumpamaan bagi penguasa yang jahat. Maksudnya adalah orang bengis yang menzalimi rakyat, tidak mengasihi dan tidak menyayangi mereka. Perkataannya, "Maka jangan sampai engkau menjadi salah satu dari mereka", adalah perkataan 'Āiż sebagai nasihat untuk Ibnu Ziyad. Namun Ibnu Ziyad justru memberi jawaban, "Engkau hanya orang rendahan di antara mereka". Artinya, engkau bukan dari kalangan orang-orang terkemuka, ulama dan orang-orang yang memiliki kedudukan di antara para sahabat. Tapi engkau dari kelompok rendahan mereka. Kata "an-nukhālah" dalam hadis ini diambil dari kata nukhālah ad-daqīq, yakni kulit padi (dedak). Kata "an-nukhālah, al-ḥuqālah, dan "al-huṡālah" artinya sama, (yakni orang rendahan). Lantas sahabat yang mulia ini -raḍiyallāhu 'anhu- menjawab, "Adakah pada generasi sahabat orang-orang rendahan. Sesungguhnya orang rendahan ada di kalangan orang-orang setelah mereka atau di selain mereka." Ini termasuk ungkapan yang tegas, jelas, dan jujur, yang diyakini setiap Muslim. Para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- semuanya adalah manusia pilihan, pemimpin umat, dan lebih baik dari orang setelah mereka. Mereka semua terpercaya dan teladan, tak ada orang rendahan di antara mereka. Justru pencampuran (antara orang yang baik dan buruk) muncul dari orang setelah mereka atau di antara orang-orang setelah mereka.