





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ketika penduduk Yaman datang, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, 'Penduduk Yaman telah datang kepada kalian.' Mereka adalah orang yang pertama kali mengajarkan kebiasaan berjabat tangan."
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadSabda beliau, "Penduduk Yaman telah datang kepada kalian" adalah sebuah isyarat tentang kondisi mereka dan untuk memperlihatkan keutamanan mereka. Di antara mereka adalah Al-Asy'ariyūn, yaitu kaum Abu Musa Al-Asy'ari, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis yang diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya, (3/155), dari Anas bin Malik, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Besok akan datang kepada kalian kaum yang hatinya lebih sensitif kepada Islam daripada kalian." Anas bin Malik berkata, "Lantas Al-Asy'ariyūn termasuk di dalamnya Abu Musa Al-Asy'ari datang. Ketika mereka sudah mendekati Madinah, mereka pun mendendangkan syair dan mengatakan: "Besok kita akan bertemu orang-orang tercinta Muhammad dan pengikutnya." Saat mereka datang, mereka pun saling berjabat tangan. Mereka adalah orang-orang yang pertama kali mengenalkan jabat tangan.
Dari Abu Hurariah -raḍiyallāhu 'anhu-, dari Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak; orang-orang mulia pada masa jahiliah adalah orang-orang mulia pada masa Islam jika mereka memahami (agama). Ruh-ruh manusia bagaikan tentara yang berkumpul; jika saling kenal maka bersatu dan jika tidak saling kenal maka ia akan terpisah." Dari Abu Hurariah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah - ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda,"Kalian mendapati manusia itu seperti barang-barang tambang; orang-orang mulia pada masa jahiliah adalah orang-orang yang mulia pada masa Islam jika mereka memahami (agama). Kalian mendapati manusia pilihan dalam hal ini adalah orang yang paling benci agama ini (tadinya), dan kalian mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua; yang datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah lain pula."
Muttafaq 'alaih dengan dua riwayatnyaRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyerupakan manusia dengan berbagai barang tambang. Ini mengandung isyarat kepada beberapa makna, di antaranya: adanya perbedaan watak manusia dan sifat akhlak serta psikisnya. Dari keterangan ini dapat dipahami adanya perbedaan barang tambang. Juga mengandung isyarat perbedaan manusia dalam menerima perbaikan, ada orang yang menerima dengan mudah, ada yang membutuhkan kesabaran, ada juga yang tidak bisa menerima sebagaimana keadaan barang tambang. Penyerupaan dengan barang-barang tambang pun mengandung isyarat perbedaan manusia dalam kemuliaan dan kehinaan asalnya. Hal tersebut dapat dipahami dari perbedaan nilai barang-barang tambang; ada yang mahal seperti emas dan perak, ada yang murah seperti besi dan lempengan logam. Penyerupaan dengan barang tambang mengandung isyarat daya pikul seperti barang-barang tambang. Yang dimaksud barang tambang orang Arab adalah asal dan garis nasab mereka. Sabda beliau, "Orang-orang mulia pada masa jahiliah adalah orang-orang mulia pada masa Islam jika mereka memahami agama." Yakni, sesungguhnya manusia paling mulia dari sisi garis keturunan dan asal, mereka adalah orang-orang mulia pada masa jahiliah dengan syarat mereka memahami agama. Contohnya Bani Hasyim adalah golongan Quraisy yang mulia pada masa jahiliah dari segi garis keturunan dan asal berdasarkan ketetapan nas hadis yang sahih. Demikian juga pada masa Islam dengan syarat mereka memahami dan mempelajari agama Allah. Jika mereka tidak memahami agama -meskipun berasal dari nasab pilihan bangsa Arab- maka mereka bukanlah manusia paling mulia di sisi Allah dan mereka bukan manusia pilihan. Hadis ini mengandung bukti bahwa terkadang manusia bisa menjadi mulia dengan garis keturunannya tetapi dengan syarat dia memiliki pemahaman mengenai agamanya. Tidak diragukan lagi bahwa garis keturunan memiliki pengaruh, karena itulah Bani Hasyim adalah manusia paling baik dan mulia garis keturunannya. Karena itulah Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- merupakan makhluk paling mulia, "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya," (Al-An'ām: 124). Seandainya klan dari Bani Adam ini bukan klan paling mulia, tentu di dalamnya tidak akan ada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Karena Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tidak akan diutus kecuali di klan paling mulia dan paling luhur garis keturunannya. Hadis ini disertai juga dengan dua hadis lainnya. Hadis pertama diakhiri dengan sabda Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ruh-ruh manusia (ibarat) tentara yang berkumpul (berkelompok). Jika saling kenal maka mereka bersatu dan jika saling mengingkari (tak kenal) maka mereka akan terpisah." Dapat ditafsirkan bahwa dalam hadis ini ada isyarat kepada makna persamaan dalam kebaikan dan keburukan. Orang baik rindu kepada yang serupa dan orang jahat rindu kepada yang semisalnya sehingga ruh-ruh itu pun saling berkenalan sesuai dengan motif yang diciptakan untuknya berupa kebaikan dan keburukan. Jika keduanya cocok maka saling berkenalan, dan apabila berbeda maka saling menjauhi. Bisa juga ditafsirkan bahwa maksudnya adalah pemberitahuan mengenai permulaan penciptaan di alam gaib sebagaimana dalam hadis berikut, "Ruh-ruh (manusia) diciptakan sebelum tubuh lalu bertemu dan menyesuaikan diri. Ketika ruh menempati tubuh-tubuh, maka ia pun berkenalan sebagaimana keadaan pertama. Dengan demikian, perkenalan ruh dan pengingkarannya sesuai dengan apa yang telah diketahui di masa lampau, lalu ruh orang-orang mulia condong kepada sesama ruh orang mulia dan ruh orang-orang jahat cenderung kepada sesama ruh orang-orang jahat." Ibnu Abdissalām berkata, "Yang dimaksud saling berkenalan dan saling mengingkari adalah kesamaan dan perbedaan sifatnya. Sebab, seseorang itu apabila sifat-sifatnya berbeda denganmu, niscaya engkau mengingkarinya. Yang tidak diketahui akan diingkari karena tidak adanya pengetahuan tentangnya. Ini termasuk majaz tasybih (metafora), yaitu yang diingkari diserupakan dengan yang tidak diketahui sedang yang cocok diserupakan dengan yang diketahui. Hadis kedua ditutup dengan sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Kalian mendapati manusia pilihan dalam hal ini adalah orang yang paling benci agama ini (tadinya), dan kalian mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua; yang datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah lain pula." Dalam sabdanya, "Kalian mendapati manusia pilihan dalam hal ini" yakni, khilafah dan kepemimpinan. Yaitu, sebaik-baik manusia dalam menjalankan hukum-hukum adalah orang yang tidak tamak terhadap kepemimpinan. Jika dia berkuasa, dia dibimbing ke jalan yang benar, dan diberi taufik. Ini berbeda dengan orang yang bernafsu pada kepemimpinan. Sedangkan manusia paling buruk adalah pemilik dua wajah, yaitu orang yang datang kepada satu kelompok dengan satu wajah, dan kepada kelompok lain dengan wajah lainnya sebagaimana yang dilakukan orang-orang munafik. "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok." Golongan ini banyak di kalangan manusia. Kita berlindung kepada Allah darinya. Ini adalah satu cabang kemunafikan. Engkau mendapatinya datang kepadamu mencari muka dan menyanjungmu. Bahkan mungkin saja berlebih-lebihan dalam sanjungan. Akan tetapi ketika berada di belakangmu, ia mencaci, mencela, mencerca, dan menyebutkan sesuatu yang tidak ada padamu (menggosipmu). Kita berlindung kepada Allah dari hal ini. Ini termasuk dosa-dosa besar karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyifati pelakunya bahwa dia seburuk-buruk manusia.
Dari Anas bin Sīrīn, ia berkata, "Aku pernah bersama Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- bertamu kepada beberapa orang Majusi; lalu disuguhkan fālūżaj (manisan dari campuran tepung gandum, margarin sapi dan madu) di atas bejana perak, maka dia pun enggan memakannya. Kemudian dikatakan kepadanya, "Gantilah," Ia pun mengganti tempatnya dengan bejana yang terbuat dari khalanj dan menyuguhkannya, lalu ia (Anas) memakannya."
Diriwayatkan oleh BaihaqiAnas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- pernah bertamu kepada beberapa orang Majusi, lalu disuguhkan kepadanya makanan semacam manisan yang bernama al-Fālūżaj (jenis manisan dari campuran tepung gandum, margarin sapi dan madu) di atas bejana perak, namun beliau enggan untuk memakannya. Kemudian mereka mengganti tempatnya menjadi bejana yang terbuat dari kayu, lalu beliau pun memakannya.
Dari As-Sā'ib bin Yazīd -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang dari perang Tabuk, orang-orang menemuinya, lalu aku pun menemuinya bersama anak-anak di atas bukit Al-Wada'. Dalam riwayat Bukhari, As-Sī'ib berkata, "Kami pergi menemui Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersama anak-anak ke bukit Al-Wada'."
Diriwayatkan oleh Bukhari - Diriwayatkan oleh Abu DaudAs-Sā`ib mengabarkan bahwa ketika Nabi Muhammad -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersama para sahabat datang dari perang Tabuk, orang-orang keluar untuk menyambutnya di Ṡaniyyah Al-Wadā', Yaitu, sebuah lokasi dekat Madinah. Tindakan seperti ini merupakan ungkapan keramahan untuk pendatang dan menggembirakan hati mereka serta motivasi bagi orang yang tidak ikut pergi berperang.
Dari Jābir bin Abdillāh -raḍiyallāhu 'anhuma-, ia berkata, "Jenazah ayahku dibawa kepada Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dalam keadaan telah dimutilasi, lalu diletakkan di hadapan beliau. Aku pergi untuk membuka tutup wajahnya, tapi kaumku mencegahku. Nabi Muhammad -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Para malaikat masih menaunginya dengan sayap-sayapnya."
Muttafaq 'alaihJenazah ayah Jābir, yaitu Abdullāh bin 'Amru bin Ḥarām Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-dibawa ke hadapan Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam-. Itu terjadi dalam perang Uhud di mana orang-orang kafir memutilasi kaum Muslimin yang gugur dengan merusak tubuh mereka. Selanjutnya jenazah itu diletakkan di hadapan beliau. Lantas Jābir datang untuk membuka penutup wajah ayahnya dengan perasaan tersayat melihat tindakan mutilasi yang dilakukan orang-orang kafir. Hanya saja kaumnya melarangnya untuk melakukan itu. Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, " Para malaikat masih menaunginya dengan sayap-sayap mereka sebagai penghormatan dan pemuliaan untuknya."
Dari Al-Ma'rūr bin Suwaid, ia berkata, "Aku pernah melihat Abu Żarr -raḍiyallāhu 'anhu- mengenakan pakaian yang sama dengan pelayannya. Lantas aku menanyakan hal itu kepadanya, ia pun menyebutkan bahwa dirinya pernah mencaci seorang lelaki di zaman Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- dengan mencela ibunya. Nabi Muhammad -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya engkau adalah orang yang di dalam dirimu ada sifat jahiliyah. Mereka adalah saudara dan pembantu kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah (kekuasaan) tangan-tangan kalian. Barangsiapa yang keadaan saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberi makan dari apa yang ia makan, memberi pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah kalian memberinya pekerjaan yang tidak sanggup mereka kerjakan. Jika kalian membebaninya pekerjaan, maka bantulah mereka!"
Muttafaq 'alaihHadis ini mengandung perintah untuk memperlakukan para hamba sahaya dengan perlakuan yang baik, khususnya dalam pakaian dan makanan. Hendaknya tidak membebani mereka di atas kemampuannya, kecuali mereka (para tuan) membantu mereka mengerjakan beban tersebut. Dalam hadis ini juga terdapat ancaman keras bagi orang yang mencela dan menghina para budak sahaya. Sebab mereka itu adalah saudara-saudara kita seagama.
Dari Abu Zaid Amru bin Akhṭab Al-Anṣāri -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengimami kami salat Subuh, kemudian naik ke atas mimbar dan berkhotbah pada kami sampai datang waktu salat Zuhur. Lantas beliau turun untuk salat. Selanjutnya beliau naik lagi ke atas mimbar lalu berkhotbah kepada kami sampai datang waktu salat Ashar. Beliau lalu turun, kemudian salat. Setelah itu, beliau naik ke atas mimbar lalu berkhotbah kepada kami sampai terbenam matahari. Kemudian beliau memberitahukan kepada kami tentang sesuatu yang telah dan sedang (bahkan akan) terjadi. Maka orang yang paling tahu (alim) diantara kami adalah orang yang paling hafal khotbah itu di antara kami."
Diriwayatkan oleh MuslimSahabat mulia Amru bin Akhṭab -raḍiyallāhu 'anhu- ini mengabarkan bahwa suatu hari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengimami salat Subuh lalu naik ke atas mimbar dan berkhotbah sampai tiba azan Zuhur. Beliau turun lalu melaksanakan salat Zuhur. Beliau kembali lagi lalu naik ke atas mimbar dan berkhotbah sampai tiba azan Asar. Beliau turun dan melaksanakan salat Asar. Setelah itu naik ke atas mimbar lalu berkhotbah sampai terbenam matahari - yakni, sehari penuh dari salat Subuh sampai terbenam matahari, beliau berkhotbah - Pada hari itu, Allah- 'Azza wa Jalla- memberitahu beliau sebagian ilmu gaib tentang masa silam dan hal-hal gaib di masa mendatang. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun memberi tahu para sahabatnya. Orang yang paling tahu hal itu adalah orang yang paling hafal dan hal itu tetap tersimpan di benaknya.
Dari Zaid bin Khālid Al-Juhani -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Janganlah kalian mencela ayam jantan. Sesungguhnya dia membangunkan untuk salat."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadZaid bin Khalid Al-Juhani -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang untuk mencerca ayam jantan, dan beliau menjelaskan sebabnya, bahwa ayam jantan itu membangunkan orang yang sedang tidur dengan suaranya untuk salat. Dalam riwayat Ahmad dan An-Nasā`i disebutkan, "Memberitahukan untuk salat." Karena itulah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang untuk mencelanya karena dengan membangunkan mereka terdapat kemaslahatan yang jelas, yaitu memotivasi orang-orang untuk taat. Orang yang mendorong pada ketaatan, maka ia pantas mendapatkan pujian, bukan celaan. Keajaiban paling besar pada ayam jantan ialah kemampuannya mengetahui waktu-waktu malam dan berkokok pada waktu-waktu tersebut dan ia menyambung kokoknya sebelum fajar hingga sesudahnya. Mahasuci Allah yang telah memberikan petunjuk kepada ayam jantan untuk melakukan hal itu.
Dari Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Ada tiga orang yang sedang berjalan kemudian hujan turun menimpa mereka. Lantas mereka masuk ke dalam gua di sebuah gunung. Tiba-tiba sebuah batu jatuh menutupi gua mereka." Beliau melanjutkan, "Kemudian mereka saling mengatakan kepada yang lainnya, "Berdoalah kepada Allah dengan (perantaraan) amal paling utama yang telah kalian lakukan." Seseorang dari mereka berdoa, "Ya Allah! Dahulu aku memiliki kedua orangtua yang sudah renta. Setiap hari aku keluar untuk menggembala. Setelah itu aku pulang dan memerah susu, lalu aku datang dengan membawa susu dan memberikannya kepada kedua orangtuaku sehingga mereka meminumnya. Selanjutnya aku memberikannya kepada anak-anak, keluarga, dan istriku. Pada suatu malam, aku terlambat pulang sehingga ketika aku datang ternyata kedua orangtuaku sudah tidur." Dia berkata, "Aku tidak suka membangunkan keduanya sedangkan anak-anakku meliuk-liuk di bawah kakiku karena kelaparan. Begitulah kondisiku dan kondisi kedua orangtuaku hingga tiba waktu Subuh. Ya Allah! Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami agar kami dapat melihat langit darinya". Beliau bersabda, "Maka terbukalah sedikit celah untuk mereka." Orang kedua berkata, "Ya Allah! Sungguh Engkau mengetahui bahwa aku seorang lelaki yang sangat mencintai seorang putri pamanku seperti kebanyakan laki-laki yang sangat mencintai wanita. Wanita itu berkata, "Engkau tidak akan bisa mendapatkannya (cintanya) kecuali engkau dapat memberi uang sebanyak seratus dinar." Maka aku berusaha bekerja dan berhasil mengumpulkan uang tersebut. Ketika aku hendak menyetubuhinya, dia berkata, "Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu renggut keperawanan kecuali dengan haq." Maka aku berdiri lalu pergi meninggalkan wanita tersebut. Ya Allah! Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami." Beliau bersabda, "Maka terbukalah dua pertiga dari batu yang menutup pintu gua. Kemudian orang yang ketiga berkata, "Ya Allah, Sungguh Engkau mengetahui bahwa aku pernah mempekerjakan seseorang dengan upah satu faraq (16 kati) gandum, lalu aku memberikan upah itu padanya namun dia tidak mau menerimanya. Lalu aku sengaja menanam satu faraq gandum tersebut sehingga dengan hasilnya aku bisa membeli sapi dan seorang pengembalanya. Kemudian di suatu hari orang itu datang kepadaku seraya berkata, "Wahai hamba Allah, berikanlah upahku yang dulu!" Lalu aku katakan, "Lihatlah sapi dan penggembalanya itu, itu semua milikmu." Dia berkata, "Apakah kamu mengolok-olokku!" Dia berkata, "Aku katakan, "Aku tidak mengolok-olok kamu tetapi itu semua benar milikmu." Ya Allah, Seandainya Engkau mengetahui apa yang aku kerjakan itu semata-mata karena mencari rida-Mu, maka bukakanlah celah untuk kami." Akhirnya mereka bisa terbebas dari gua tersebut."
Muttafaq 'alaihAda tiga orang keluar untuk berjalan lalu hujan menimpa mereka. Lantas mereka masuk ke dalam gua untuk berlindung dari derasnya hujan. Tiba-tiba sebongkah batu jatuh menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, "Berdoalah kepada Allah dengan amal paling utama yang telah kalian kerjakan. Mudah-mudahan Allah melapangkan jalan bagi kalian dan menggeser batu ini." Salah seorang dari mereka berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah tua renta. Aku biasa keluar menuju tempat penggembalaan dan menggembalakan untaku. Lalu aku datang ke tempat penggembalaan kemudian memerah untaku. Selanjutnya aku membawa susu tersebut dan memberikannya kepada kedua orang tuaku sehingga mereka meminumnya. Selanjutnya aku memberi minum anak-anakku yang masih kecil, istriku, dan keluargaku yang lain; saudara dan saudariku. Pada suatu malam aku terlambat datang disebabkan ada hal yang menghalangiku. Ternyata bapak dan ibuku sudah tidur. Aku pun memeras susu sebagaimana biasanya lalu aku berdiri di sisi kepala keduanya karena enggan untuk membangunkan mereka. Aku juga enggan untuk memberi minum anak-anakku dan keluargaku sebelum keduanya minum. Sementara itu anak-anakku menangis dan berteriak di kakiku karena sangat lapar. Demikianlah keadaanku dan keadaan keduanya hingga terbit fajar dan keduanya terbangun. Lalu aku memberi minum keduanya kemudian anak-anakku. Ya Allah, jika engkau tahu bahwa aku melakukan itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini sedikit hingga kami dapat melihat langit." Allah pun melapangkan celah untuk mereka hingga dapat melihat langit. Orang kedua berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku dulu sangat mencintai salah seorang putri pamanku. Lantas aku menggodanya tapi dia menolakku kecuali jika aku memberinya seratus dinar. Aku pun berhasil mendapatkan seratus dinar lalu memberikannya kepadanya. Setelah aku berhasil menguasainya dan akan melakukan hubungan badan, ia berkata kepadaku, "Takutlah kepada Allah dan jangan lakukan hal yang haram, dan janganlah engkau koyak keperawananku kecuali dengan cara halal." Seketika aku pun berdiri dari hadapannya dan meninggalkannya tanpa melakukan apapun kepadanya. Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini dari kami." Allah pun menggeserkan dua pertiga batu itu dari tempatnya. Orang ketiga berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku dulu mengupah seorang buruh untuk bekerja padaku dengan imbalan aku akan memberinya enam belas kati gandum. Setelah selesai bekerja, aku memberikan upahnya tapi dia menolak untuk mengambilnya. Lantas aku mengambil gandum itu dan menanamnya. Aku terus menanamnya dan menjualnya hingga bisa membeli sapi dan penggembalanya. Setelah beberapa saat, datanglah buruh itu dan berkata, "Wahai hamba Allah, berikanlah hakku kepadaku." Aku jawab, "Pergilah ke tempat sapi dan penggembalanya itu, sesungguhnya ia milikmu dan ambillah semuanya." Buruh itu berkata, "Apakah engkau mengolok-olokku?" Aku jawab, "Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu. Ia memang milikmu." Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa aku melakukan hal itu karena mencari keridaan-Mu, maka geserkanlah batu ini dari kami." Allah pun melapangkan pintu gua itu lalu mereka keluar darinya.