





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwasanya Jibril pernah datang membawa gambar dirinya yang dibalut kain sutra hijau kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, "Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat."
Diriwayatkan oleh TirmiżiJibril pernah mendatangi Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam mimpi dengan membawa Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- dalam balutan sehelai sutra hijau. Maksudnya, datang di alam mimpi, bukan di alam nyata. Lalu ia berkata pada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Wanita inilah yang akan menjadi istrimu di dunia dan akhirat."
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih sayang kepada keluarga daripada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Ia menuturkan, "Ibrahim dahulu disusukan di daerah 'Awāli di kota Madinah. Beliau biasa pergi (ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. Beliau masuk ke rumah, sementara rumah tersebut penuh asap. Memang suami ibu susuannya adalah seorang pandai besi. Beliau mengambil Ibrahim lalu menciuminya, kemudian pulang." 'Amru mengatakan, "Ketika Ibrahim meninggal, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Ibrahim putraku meninggal dalam masa persusuan, dan sesungguhnya ia memiliki dua ibu susuan yang akan menyempurnakan masa susuannya di Surga."
Diriwayatkan oleh MuslimAnas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa ia tidak melihat seseorang yang lebih sayang pada keluarga dan anak-anak kecil daripada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Ibrahim, putra Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- disusui oleh seorang ibu susuan di desa dalam wilayah Madinah. Dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa pergi (ke rumah ibu susuan tersebut) bersama sebagian sahabat untuk mengunjunginya. Beliau masuk rumah dan mendapati rumah tersebut berasap, karena suami ibu susuannya seorang pandai besi. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengambil Ibrahim lalu menciuminya, kemudian pulang. Ketika Ibrahim meninggal dunia, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersada, "Sesungguhnya Ibrahim putraku meninggal dalam masa persusuan, dan sesungguhnya ia memiliki dua ibu susuan yang akan menyempurnakan masa susuannya di Surga hingga lengkap dua tahun." Yang demikian itu karena Ibrahim meninggal saat masih berusia 16 atau 17 bulan. Maka dua ibu susuan di Surga tersebut akan menyusuinya di sisa masa dua tahun, karena ini batas maksimal masa menyusu berdasarkan nas Alquran. Ini sebuah penghormatan untuknya dan ayahnya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-.
Dari Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Kami pernah keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam rangka menghadiri penguburan jenazah seorang laki-laki dari kaum Ansar. Kami tiba di kuburan sedangkan jenazah belum dikuburkan. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk dan kami duduk di sekitar beliau, seolah-olah di atas kepala kami ada burung hinggap. Tangan beliau memegang ranting, beliau mengetuk-ngetukkannya ke tanah. Beliau mengangkat kepala lalu bersabda, "Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur", dua atau tiga kali (beliau ucapkan). Ia menambahkan dalam riwayat lain, "Sesungguhnya ia (mayat) mendengar suara ketukan sandal mereka apabila mereka beranjak pergi, ketika dikatakan kepadanya, "Wahai orang ini, siapa Rabbmu, apa agamamu dan siapa Nabimu?" Hannād mengatakan, "Ia berkata, "Dan dua malaikat datang, mendudukkannya lalu menanyainya, "Siapa Rabbmu?" Ia menjawab, "Rabbku Allah." Keduanya bertanya lagi, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Agamaku Islam." Keduanya menanyainya lagi, "Siapakah orang ini yang diutus pada kalian?" Ia menjawab, "Ia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Keduanya berkata, "Dari mana kamu tahu?" Ia menjawab, "Aku membaca kitab Allah lalu aku mengimaninya dan membenarkannya." Ia menambahkan dalam riwayat Jarir, "Itulah firman Allah -'Azza wa Jalla-, "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman..." (Ibrāhīm: 27)- Kemudian keduanya (Hannād dan Jarir) sepakat meriwayatkan- Beliau bersabda, "Kemudian penyeru dari langit menyerukan, bahwa hambaku telah benar, maka beri ia alas dari surga, bukakan untuknya pintu ke surga, dan beri ia pakaian dari surga." Beliau bersabda, "Maka datanglah kepadanya bau harum dan wewangian surga." Beliau bersabda, "Dan dibukakan untuknya pintu ke arah surga sejauh matanya memandang." Beliau bersabda, "Dan sesungguhnya orang kafir itu...", lalu beliau menyebutkan kematiannya. Beliau bersabda, "Ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dan datang dua malaikat lalu mendudukkanya, dan bertanya padanya, "Siapa Rabbmu?" Ia menjawab, "Hah, hah, hah, aku tidak tahu." Keduanya bertanya lagi, "Apa agamamu?" Keduanya menjawab, "Hah, hah, aku tidak tahu." Keduanya bertanya lagi, "Siapakah orang ini yang diutus kepada kalian?" Ia menjawab, "Hah, hah, aku tidak tahu." Lalu penyeru dari langit menyerukan, "Ia berdusta, maka berilah ia alas dari neraka, berilah pakaian dari neraka, dan bukakan untuknya pintu ke neraka." Beliau bersabda, "Maka datanglah kepadanya panas dan hawa panas neraka." Beliau bersabda, "Kuburnya disempitkan hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan." Ia menambahkan dalam hadis Jarir, "Kemudian ditugaskan untuk menyiksanya sosok yang buta lagi bisu, membawa palu besi yang seandainya dipukulkan pada gunung pasti menjadi debu." Beliau bersabda, "Lalu sosok itu memukulnya dengan palu itu satu kali yang didengar makhluk yang ada di antara timur dan barat selain manusia dan jin, hingga ia menjadi debu." Beliau bersabda, "Kemudian ruhnya dikembalikan ke jasadnya."
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadBarā` bin 'Āzib menceritakan bahwa para sahabat pernah keluar bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam rangka menghadiri penguburan jenazah seorang laki-laki dari Ansar. Mereka sampai di kubur sebelum jenazah itu dimakamkan. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk, dan mereka duduk di sekeliling beliau dalam kondisi diam, tidak berkata-kata, lantaran wibawa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Tangan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memegang ranting yang beliau ketuk-ketukkan ke tanah, seperti dilakukan orang yang sedang berpikir dan sedih. Beliau mengangkat kepala, lalu bersabda, "Mohonlah kepada Allah agar Dia menjauhkan dan menyelamatkan kalian dari siksa kubur." Beliau mengucapkan hal ini dua atau tiga kali. Kemudian beliau mengabarkan bahwa mayat bisa mendengar suara sandal orang-orang yang mengiringinya ketika mereka pergi meninggalkannya. Dan sekarang ini, mayat didatangi dua malaikat lalu mendudukkannya dan menanyainya, "Siapa Rabbmu?" Ia menjawab, "Rabbku Allah." Keduanya bertanya lagi, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Agamaku Islam." Keduanya bertanya, "Siapa orang ini yang diutus pada kalian?" Ia menjawab, "Ia Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Keduanya bertanya, "Dari mana engkau mengetahuinya?" Ia menjawab, "Aku membaca kitab Allah lalu aku mengimaninya dan membenarkannya." Kelancaran lidahnya mengeluarkan jawaban tersebut adalah peneguhan yang terkandung dalam firman Allah, "Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu..." (Ibrāhīm: 27). Kemudian Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Lantas penyeru dari langit menyerukan, bahwa hamba-Ku benar terkait apa yang ia ucapkan. Di dunia dulu ia meyakini keyakinan ini, maka ia berhak dimuliakan. Karenanya, siapkan untuknya kasur dari surga, berilah ia pakaian penghuni surga, dan bukakan untuknya pintu ke surga.” Maka dibukakanlah untuknya pintunya sehingga sampai padanya angin sepoi-sepoi dan aroma surga yang wangi, dan diperluas kuburnya sejauh matanya memandang. Sedangkan orang kafir, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyebutkan kondisi dan derita kematiannya, dan bahwa ruhnya dikembalikan ke dalam jasadnya setelah dikubur. Dua malaikat mendatanginya, lalu mendudukkanya dan bertanya kepadanya, "Siapa Rabbmu?” Ia kebingungan menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu." Keduanya bertanya lagi, "Apa agamamu?" Ia menjawab, "Hah, hah, aku tidak tahu." Keduanya menanyainya lagi, "Apa pendapatmu tentang orang ini yang diutus untuk kalian, apakah ia seorang Nabi atau bukan?” Ia menjawab, "Hah, hah, aku tidak tahu." Lalu penyeru dari langit menyerukan, bahwa orang kafir ini telah berdusta karena ketidak imanannya dan penentangannya yang menjadi sebab perkataannya ini. Pun, karena agama Allah -Ta'ālā- dan keabian Muhammad –ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- nampak jelas di belahan timur dan barat bumi. Karenanya, berilah ia kasur dari kasur-kasur neraka, berilah ia pakaian dari pakaian penghuni neraka, dan bukakan untuknya pintu ke neraka. Maka sampai padanya panas neraka, ia dihimpit di dalam kuburnya hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan dan berubah dari bentuk normalnya. Kemudian ditugaskan untuk menyiksanya satu malaikat yang buta lagi bisu, membawa palu besar dari besi yang seandainya dipukulkan pada gunung pasti menjadi debu. Malaikat itu memukulnya dengan palu tersebut satu pukulan yang didengar semua makhluk yang ada di antara timur dan barat, selain jin dan manusia. Orang ini pun menjadi debu. Kemudian ruhnya dikembalikan supaya ia merasakan siksaan. Siksa tersebut terus menimpanya di dalam kubur.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Jika salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah ia membaca: Al-Ḥamdulillāh. Dan saudaranya atau sahabatnya hendaklah mengucapkan: Yarḥamukallāh (Semoga Allah merahmatimu). Jika ia telah mengucapkan padanya: Yarḥamukallāh, maka hendaklah ia berkata: Yahdīkumullāhu wa yuṣliḥu bālakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu)."
Diriwayatkan oleh BukhariHadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim jika bersin maka hendaknya ia memuji Allah -Ta’ālā- karena dengan bersinnya itu ia telah mendapatkan nikmat dan manfaat yaitu dengan keluarnya uap yang tertahan di kepalanya yang apabila masih bercokol di dalamnya sungguh akan menyebabkan penyakit-penyakit berbahaya. Oleh karena itu, disyariatkan baginya untuk memuji Allah atas nikmat ini. Kemudian wajib bagi orang yang mendengarkannya untuk menjawab dengan mengucapkan, “Yarḥamukallāh (semoga Allah merahmatimu).” Dan orang yang bersin menjawab dengan mengucapkan: “Yahdīkumullāhu wa yuṣliḥu bālakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” Maka dengan bersin didapatkan manfaat yang kembali kepada orang yang bersin dan kepada orang yang mendengarkan. Ini merupakan salah satu keagungan yang menunjukkan keutamaan agama ini atas manusia.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-bersabda, "Siapa yang dijaga oleh Allah dari kejelekan benda yang ada di antara kedua rahangnya (lisannya) dan kejelekan benda yang ada di antara kedua kakinya (kemaluannya), ia pasti masuk surga."
Diriwayatkan oleh TirmiżiSiapa yang dijaga oleh Allah -'Azza wa Jalla- dari pembicaraan yang dimurkai Allah -Ta'ālā- dan dari terperosok ke dalam zina, maka ia telah selamat dan pasti masuk surga.
Dari Ma'qil bin Yasār -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Beribadah pada saat haraj (fitnah dan kekacauan berkecamuk), laksana berhijrah kepadaku."
Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis: Sesungguhnya orang yang berpegang erat kepada ibadah di saat banyak terjadi fitnah dan kekacauan serta pembunuhan, maka keutamaannya seperti orang yang berhijrah kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sebelum penaklukan kota Makkah, sebab hal ini sesuai dari segi bahwa orang yang berhijrah melarikan diri sambil membawa agamanya dari orang yang merintanginya untuk berpegang teguh kepada Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Demikian juga orang yang mencurahkan dirinya untuk beribadah kepada Allah Ta'ālā, maka ia melarikan diri dari manusia sambil membawa agamanya untuk berpegang teguh dengan ibadah kepada Tuhannya. Maka ia sebenarnya telah berhijrah kepada Tuhannya dan lari dari seluruh makhluk-Nya.
Dari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- juga bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa berdo'a, "Ya Allah! Hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal, hanya kepada-Mu aku kembali, hanya karena pertolongan-Mu aku memerangi musuh. Ya Allah! Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tiada sembahan yang berhak disembah selain Engkau, dari Engkau sesatkan aku. Engkau Maha hidup yang tidak akan mati, sedang jin dan manusia semuanya akan mati."
Muttafaq 'alaihDari Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah bersabda, (اللهم لك أسلمت) yakni tunduk dan patuh secara lahir bukan kepada selain-Mu. (وبك آمنت) yakni membenarkan secara batin. (وعليك توكلت) yakni aku menyerahkan pengaturan semua urusanku kepada-Mu karena aku tidak memiliki daya untuk menjadikannya bermanfaat atau mudarat. (وإليك أنبت) yakni aku kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan atau dari kelalaian menjadi selalu ingat kepada-Mu. (وبك) yakni dengan pertolongan-Mu. (خاصمت) yakni aku memerangi musuh-musuh-Mu. (اللهم إني أعوذ بعزتك) yakni dengan kekuasaan-Mu karena sesungguhnya kemuliaan/kekuatan itu semuanya milik Allah. (لا إله إلا أنت) Tidak ada sesembahan yang hak atau benar selain Engkau, tidak ada permohonan kecuali ditujukan kepada-Mu, dan tidak ada perlindungan kecuali dengan perlindungan-Mu. (أن تضلني) yakni aku berlindung agar Engkau tidak menyesatkan aku setelah Engkau memberikan hidayah kepadaku dan memberikan aku taufik untuk tunduk nan patuh secara lahir dan batin kepada hukum-Mu, keputusan-Mu, untuk kembali ke sisi-Mu, dan berperang dengan musuh-musuh-Mu, serta berlindung dan kembali dalam setiap keadaan kepada kemuliaan dan pertolongan-Mu. Engkau Maha hidup yang tidak akan mati, sedang jin dan manusia semuanya akan mati.
Dari Abu Jurayy Al-Hujaimi -raḍiyallāhu 'anhu-, seraya berkata, "Aku mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- lalu berkata, " 'alaikas salām", wahai Rasulullah!" Beliau bersabda, "Jangan kau ucapkan " 'alaikas salām" (salam untukmu), karena ucapan ini adalah sapaan bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia!"
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu DaudMakna hadis: Ada seorang lelaki datang menghadap Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan mengucapkan salam " 'alaikas salām ya Rasulullah". Lalu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang bentuk salam yang demikian. Begitu tidak sukanya beliau hingga tidak menjawab salam itu. Beliau jelaskan bahwa ungkapan ini untuk "salam kepada orang mati". Kemudian beliau jelaskan salam yang masyru' seperti pada hadis yang lain, katakan "Assalāmu 'alaik". Sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- " 'alaikas salām adalah salam kepada orang mati" tidak berarti salam ini diucapkan saat ziarah kubur karena riwayat yang benar dari beliau adalah ucapan "Assalāmu 'alaikum Ahla dāri qaumin mu'minīn...". Beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengatakan demikian sebagai isyarat terhadap kebiasaan kaum jahiliah dalam menyalami orang-orang yang meninggal.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara mafrū', "Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat peniup sangkakala telah memasukkan (sangkakala) ke dalam mulut (siap siaga) dan ia hanya menunggu izin, kapan diperintahkan untuk meniup sangkakalanya maka dia akan meniupnya." Berita ini terasa berat sekali oleh para sahabat, kemudian beliau bersabda, "Ucapkanlah "Ḥasbunallāhu wa ni'mal wakīl" (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik yang menjamin)."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadRasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa- sallam bersabda, "Bagaimana aku bisa senang sementara malaikat yang bertugas meniup sangkakala sudah meletakkan mulutnya di sangkakala sambil mendengar dan menunggu izin kapan dia diperintahkan untuk meniupnya, lalu ia akan meniupnya." Tentu saja hal itu memberatkan para sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda kepada mereka, "Ucapkanlah "Ḥasbunallāhu wa ni'mal wakīl" (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik yang menjamin)." Yakni, Dia yang menjamin kita.