Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way






























Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan bahwa dusta yang paling dusta adalah jika seseorang mengaku bahwa dirinya telah melihat sesuatu dalam tidurnya atau saat terjaganya, padahal sebenarnya ia berdusta dalam pengakuannya tersebut karena ia tidak melihat apa pun. Dusta mengenai ru`yā (mimpi baik) dalam tidur adalah lebih besar daripada dusta mengaku melihat sesuatu di alam terjaga. Sebab, ru`yā (mimpi baik) yang dilihat manusia saat tidur adalah dari Allah melalui perantara malaikat. Dengan demikian, dusta dalam situasi tidur itu adalah dusta atas nama Allah -Ta'ālā-. Adapun aḥlām (mimpi buruk) maka itu dari setan, dan ada juga bisikan jiwa kepada jiwa. Jadi, yang dilihat oleh orang yang tidur adalah salah satu dari yang tiga ini.
Sesungguhnya banyak melaknat akan menghilangkan kesempurnaan derajat kejujuran yang merupakan derajat paling tinggi yang bisa dicapai oleh seorang mukmin di sisi Allah Ta'ālā.
Hadis yang mulia tersebut melarang orang-orang mukmin untuk saling mendoakan kejelekan diantara mereka dengan beberapa macam doa, yaitu dengan laknat Allah, kemurkaan Allah dan dengan neraka. Hal itu disebabkan karena agungnya perkara doa-doa tersebut di sisi Allah Ta’ālā.
Dari 'Imrān bin al-Huṣain -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa seorang wanita dari kaum Anṣar mengendarai untanya, lalu ia merasa lelah dan bosan (karena untanya berjalan lambat) sehingga ia mengatakan (pada unta tersebut), "Semoga Allah melaknatmu." Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pun mendengar ucapan tersebut. Maka beliau memerintahkan supaya pelana dan barang-barang yang ada di atas unta itu diambil, kemudian unta itu dilepaskan karena ia telah dilaknat. 'Imrān -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Sungguh aku telah melihatnya, yakni unta, berjalan di tengah manusia, tak seorang pun mengganggunya." Sebab Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- telah memerintahkan supaya unta itu dibiarkan.
Seorang gadis kecil mengendarai seekor unta yang membawa sebagian barang dan kebutuhan. Lalu ia melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam kondisi gunung telah mempersempit jalan orang-orang yang di antara mereka adalah Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Gadis itu lalu ingin mempercepat langkah unta, maka ia mengatakan, "Hal"-satu kata hardikan untuk unta- agar unta berjalan cepat, kemudian ia melaknatnya. Maka Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak boleh berjalan bersama-sama kami unta yang telah dilaknat."
Sesungguhnya setan berkata, "Demi kemuliaan-Mu wahai Tuhanku, aku tidak akan pernah berhenti menyesatkan hamba-hamba-Mu selama nyawa mereka berada di tubuhnya." Yakni, setan bersumpah bahwa dengan kemuliaan Allah, dia tidak henti-hentinya akan menyesatkan para hamba selama mereka hidup. "Tuhan berfirman, "Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan henti-hentinya memaafkan mereka, selama mereka memohon ampunan kepadaku." Yakni, Allah -'Azza wa Jalla- berfirman menjawab ucapan setan, "Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka meminta ampunan kepada-Ku untuk dosa-dosa mereka.
Jauhilah kezaliman dan takutlah terhadap doa orang yang teraniaya. Sesungguhnya doa itu naik ke langit laksana percikan api. Beliau menyerupakan doa itu dengan percikan api dalam kecepatan naiknya atau karena doa itu keluar dari hati yang membara terbakar api penindasan dan kezaliman. Daya tembusnya ke tabir seperti dampak percikan api.
Hadis ini menunjukkan perbedaan kedudukan dan tingkatan surga. Sebagian surga lebih tinggi dari sebagian lainnya secara kasat mata dan maknawi, di mana bangunannya dari emas dan wadah-wadahnya dari emas. Sebagian lagi bangunannya dari perak dan wadah-wadahnya dari perak. Sebagaimana diketahui, bahwa emas adalah barang tambang yang paling mahal dan berharga bagi orang-orang yang diseru oleh Al-Qur`ān ketika turun. Boleh jadi dalam surga itu ada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih mahal dari emas, karena Allah -Ta'ālā- mengabarkan bahwa di dalam surga ada sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tak didengar oleh telinga, dan tak terlintas dalam hati manusia. Dalam satu riwayat yang berhubungan dengan hadis ini disebutkan, "Surga-surga Firdaus ada empat; dua dari emas dst." Sabda beliau, "Pemisah antara satu kaum dengan melihat kepada Rabb mereka hanyalah selendang kebesaran di muka-Nya di surga 'Adn. Dalam hadis ini terdapat keterangan dekatnya pandangan mereka kepada Rabbnya. Apabila Allah -Ta'ālā- hendak menjadikan mereka nikmat dan menambah kemuliaan mereka, maka Dia mengangkat selendang kebesaran dari wajah-Nya lalu orang-orang pun memandang-Nya. Ahlussunnah menetapkan selendang kebesaran milik Allah -Ta'ālā-, kejadian kaum mukminin melihat Tuhan mereka di surga tanpa ada pertanyaan bagaimana dan penyerupaan serta tanpa penyimpangan dan pengosongan makna. Sebagaimana mereka menetapkan wajah bagi-Nya yang selaras dengan keagungan-Nya, dan tidak boleh menakwilkan sesuatu pun dari itu dan mengubahnya dari zahirnya, sebagaimana mazhab salaf saleh.
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang yang mengendarai kuda kencang yang dipersiapkan untuk lomba berjalan di bawahnya selama seratus tahun maka dia belum sampai ke ujung juluran rantingnya.