





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abdullah bin Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah lewat saat kami sedang merenovasi gubug kami. Lalu beliau bertanya, "Apa ini?" Kami menjawab, "Ia sudah rusak, maka kami memperbaikinya." Beliau berkata, "Aku tidak melihat urusan ini (maut) melainkan lebih cepat dari itu (renovasi).”
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu DaudMakna hadis: Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah lewat di dekat 'Amr bin Al-'Āṣ saat ia sedang merenovasi bagian rumahnya yang rusak atau saat ia sedang bekerja untuk mengokohkannya. Dalam riwayat Abu Daud, “Sementara aku sedang menambal dindingku dengan tanah liat.” Lalu beliau bersabda, “Aku tidak melihat urusan ini (maut) melainkan lebih cepat dari itu (renovasi)”. Maksudnya adalah bahwa ajal itu lebih dekat dari waktu yang engkau gunakan untuk merenovasi rumahmu karena takut roboh sebelum engkau mati, bahkan bisa jadi engkau mati sebelum ia roboh. Maka memperbaiki amalmu lebih utama daripada memperbaiki rumahmu. Tampaknya usaha (‘Amr bin Al-'Āṣ) memperbaikinya belumlah mendesak, bahkan mungkin didorong oleh keinginan untuk memperkokohnya, atau timbul dari keinginan untuk mempercantiknya. Kemudian Rasulullah menjelaskan kepadanya bahwa menyibukkan diri dengan urusan akhirat jauh lebih utama daripada menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyantap satu makanan bersama enam orang sahabatnya. Lantas datanglah seorang Arab Baduwi lalu makan dua suap. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Andai saja ia menyebut nama Allah, niscaya makanan tersebut cukup untuk kalian semua."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- makan bersama enam orang sahabatnya. Tiba-tiba datang orang Arab baduwi dan bergabung dengan mereka ikut menyantap makanan yang tersisa sebanyak dua suap. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Andai saja ia menyebut nama Allah, niscaya makanan tersebut cukup untuk kalian semua." Tetapi dia tidak menyebut nama Allah dan langsung menyantap makanan yang tersisa seluruhnya sebanyak dua suap dan tidak cukup untuknya. Ini merupakan dalil bahwa apabila seseorang tidak menyebut nama Allah (saat makan), maka dicabutlah keberkahan dari makanannya.
Waḥsyi bin Ḥarb -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kami makan namun tidak merasa kenyang." Beliau bersabda, "Mungkin kalian makan sendiri-sendiri." Mereka menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Berkumpullah pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah, pasti Allah akan memberi kalian keberkahan pada makanan tersebut."
HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan AhmadSebagian sahabat berkata kepada Nabi ﷺ, "Kami makan, namun kami tidak mendapatkan rasa kenyang." Maka Nabi ﷺ bertanya, "Barangkali kalian berpencar ketika makan, yaitu masing-masing makan sendiri?" Mereka menjawab, "Ya." Rasulullah ﷺ bersabda, "Berkumpullah dan jangan berpencar ketika makan, serta sebutlah nama Allah ketika makan dengan membaca "bismillāh", pasti Allah akan memberkahi kalian pada makanan tersebut dan kalian akan merasakan kenyang."
Dari Jabalah bin Suḥaim, ia berkata, "Kami ditimpa tahun paceklik bersama Ibnu Az-Zubair, kemudian kami diberi rezeki kurma. Saat itu Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- melewati kami yang sedang makan, lalu ia berkata, "Janganlah kalian mengumpulkannya (makan dua biji sekaligus), karena Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang mengumpulkan makanan (di mulut)!" Selanjutnya ia berkata, "Kecuali orang tersebut meminta izin kepada saudaranya."
Muttafaq 'alaihDari Jabalah bin Suḥaim, ia berkata, "Kami ditimpa tahun paceklik bersama Ibnu Az-Zubair -raḍiyallāhu 'anhumā-, lalu dia memberi kami kurma. Saat itu Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- melewati kami yang sedang makan. Ia mengabarkan kepada kami bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang seseorang mengumpulkan antara dua biji kurma atau makanan lain yang biasa dimakan satu demi satu apabila makan bersama jemaah, kecuali seizin para sahabatnya. Sesuatu yang sudah biasa dimakan satu demi satu seperti kurma, jika engkau bersama satu jemaah, maka engkau tidak boleh sekaligus memakan dua butir kurma dalam satu suapan, karena hal ini merugikan saudara-saudaramu yang ada bersamamu. Engkau tidak boleh makan lebih banyak dari mereka, kecuali apabila minta izin dan engkau katakan, "Apakah kalian mengizinkanku untuk makan dua biji kurma sekaligus?" Jika mereka mengizinkanmu, maka tidak masalah." Catatan: Dalam Sahih Al-Bukhari disebutkan, "Farazaqana" dengan empat fatḥah, dan yang melakukannya adalah Ibnu Az-Zubair. Artinya dia memberi kami. Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan, "Faruziqnā" dengan bentuk pasif dan ditafsirkan bahwa yang memberi rezeki adalah Allah -Ta'ālā-.
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika aku dimikrajkan, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku bertanya, 'Siapakah mereka itu, wahai Jibril?' Dia menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (menggibah) dan mencemarkan kehormatan mereka.'"
HR. Abu DaudNabi Muhammad ﷺ mengabarkan bahwa ketika beliau diangkat ke langit pada malam isra dan mikraj, beliau melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar dan melukai muka dan dada mereka dengannya. Beliau pun bertanya kepada Jibril -'alaihissalām-, "Apa yang telah dilakukan oleh orang-orang itu sehingga diberikan balasan dengan siksa seperti itu?" Jibril -'alaihissalām- menjawab, "Mereka itu adalah orang-orang yang menggibah manusia dan mencemarkan kehormatan mereka tanpa alasan yang benar."
Abu Musa -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya bagaikan hujan deras yang membasahi tanah. Sebagian jenis tanah ada yang baik dan menyerap air lalu menumbuhkan rerumputan dan tumbuhan yang banyak. Sebagian ada yang keras dan menahan air, maka Allah menjadikannya bermanfaat bagi manusia, yaitu mereka bisa minum, melakukan pengairan, dan bercocok tanam. Sedang sebagian yang lain adalah tanah gersang yang tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang paham agama Allah dan mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutusku dengannya, yaitu dia belajar lalu mengajarkan ilmunya. Demikian pula perumpamaan orang yang tidak peduli dan yang tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus."
Muttafaq 'alaihDengan penuh kagum, Nabi Muhammad ﷺ mengumpamakan orang yang mendapat manfaat lewat ajaran yang beliau bawa berupa petunjuk, jalan yang akan mewujudkan cita-cita, dan ilmu syariat dengan tanah yang disiram oleh hujan deras. Tanah tersebut terbagi menjadi tiga macam: Pertama: tanah yang baik dan menyerap air hujan, sehingga tumbuh banyak macam tumbuhan, baik yang basah maupun kering, sehingga orang-orang mendapat manfaatnya. Kedua: tanah yang menahan air namun tidak menumbuhkan tanaman. Tanah tersebut menyimpan air agar dapat dimanfaatkan manusia untuk mereka minum sendiri serta mereka berikan kepada ternak dan tanaman mereka. Ketiga: tanah tandus dan gersang yang tidak menahan air maupun menumbuhkan tumbuhan. Tanah tersebut tidak mendapatkan manfaat dari air itu, dan tidak pula bermanfaat untuk manusia. Demikian halnya orang-orang yang mendengar ilmu dan petunjuk yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Pertama: orang berilmu dan mengerti agama Allah, mengamalkan ilmunya, dan mengajar orang lain. Orang yang seperti ini sama dengan tanah yang baik, ia menyerap air hujan sehingga bermanfaat untuk zatnya sendiri dan menumbuhkan tumbuhan sehingga bermanfaat untuk selainnya. Kedua: orang yang mengumpulkan ilmu namun tidak paham. Dia mengoleksi ilmu dan menghabiskan waktunya untuk itu, namun ia tidak melaksanakan konsekuensinya atau tidak memahami apa yang ia kumpulkan. Ia menjadi media bagi yang lain. Ia ibarat tanah yang dapat bertahan air padanya sehingga dapat dimanfaatkan manusia. Ketiga: orang yang mendengar ilmu namun tidak menghafalnya, tidak mengamalkannya, dan tidak membagikannya kepada yang lain. Ia seperti tanah yang tandus atau licin yang tidak menumbuhkan tanaman, tidak menyimpan air, atau justru merusak air bagi yang lain.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Suatu malam sebuah rumah terbakar bersama penghuninya. Saat keadaan mereka (penghuni rumah) diceritakan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Sesungguhnya api ini musuh bagi kalian. Jika kalian tidur, maka padamkanlah!"
Muttafaq 'alaihSuatu malam ada satu rumah terbakar di Madinah. Berita ini sampai kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lantas beliau memberitahu orang-orang bahwa api adalah musuh bagi pemiliknya jika dia tidak berhati-hati terhadap bahaya jilatannya dan daya bakarnya. Selanjutnya beliau -'alaihiṣ ṣalātu was salāmu- memerintahkan mereka untuk memadamkannya sebelum tidur untuk mencegah keburukannya seperti bara nyalanya, kebakaran dan sebagainya.
An-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Bukankah kalian berada dalam limpahan makanan dan minuman apa saja sesuka kalian? Sungguh, aku pernah melihat Nabi kalian ﷺ tidak menemukan kurma jelek sekali pun untuk mengganjal perutnya."
HR. MuslimAn-Nu'mān bin Basyīr -raḍiyallāhu 'anhumā- mengingatkan umat Islam tentang nikmat yang mereka dapatkan, yaitu mereka selalu mendapatkan limpahan makanan dan minuman sesuka mereka. Kemudian ia menceritakan perihal kondisi Nabi ﷺ, yaitu beliau tidak menemukan kurma yang jelek sekali pun untuk mengganjal perutnya saat lapar.
Dari Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', “Pada hari kiamat kelak akan dihadirkan orang yang paling merasakan nikmat di dunia dari kalangan penduduk neraka. Kemudian ia dicelupkan sekali ke dalam neraka lantas ditanyakan padanya, ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan, apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.’ Dan akan dihadirkan pula orang yang paling sengsara di dunia dari kalangan penduduk surga lalu dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Ditanyakan padanya, ‘Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat satu penderitaan? Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan penderitaan sama sekali dan aku tak pernah melihat adanya kesengsaraan sedikitpun.”
Diriwayatkan oleh MuslimMakna hadis ini: Pada hari kiamat nanti akan ada penghuni neraka yang ketika di dunia ia adalah orang yang paling nikmat hidupnya, lalu ia dicelupkan ke dalam Jahannam sehingga ia pun terkena panasnya, nyalanya, anginnya yang membuatnya melupakan kenikmatan dunia yang pernah dirasakannya. Saat itulah Tuhannya bertanya kepadanya, sedangkan Dia sendiri lebih mengetahui keadaannya. Apakah engkau pernah melihat kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?" Orang itu menjawab, "Tidak demi Allah, wahai Tuhanku." Sebaliknya, akan didatangkan seorang penghuni surga yang merupakan penduduk dunia paling sengsara, paling melarat, fakir dan membutuhkan, lalu ia dicelupkan di surga satu kali celupan sehingga dia melupakan kondisi yang pernah terjadi di dunia berupa keletihan, kesengsaraan, kesusahan, kefakiran dan kepayahan, saat dirinya mendapatkan kelezatan dan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan. Saat itulah Tuhannya bertanya kepadanya, sedangkan Dia sendiri lebih mengetahui keadaannya. Dikatakan kepadanya, "Hai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan suatu kesengsaraan? Apakah engkau pernah merasakan suatu penderitaan?" Orang itu menjawab, "Tidak demi Allah, aku tidak pernah merasakan suatu penderitaan pun yang menghampiriku dan aku pun tidak melihat suatu kesengsaraan pun.