





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, ”Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Ia berkata, "Sebaik-baik manusia (yang berjasa) kepada manusia lainnya adalah manusia yang menawan mereka dengan belenggu yang melilit di leher mereka sehingga mereka masuk Islam.” Dan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- juga, dari Nabi -ṣalallahu'alaihi wasalam-, beliau bersabda, “Allah -'Azzā wa Jallā- takjub terhadap suatu kaum yang masuk Surga dalam keadaan terbelenggu.”
Muttafaq 'alaihAllah -Subḥānahu wa Ta’ālā- takjub terhadap orang-orang yang ditarik untuk masuk ke Surga dengan menggunakan rantai. Mereka adalah orang kafir yang ditawan oleh kaum Muslimin dalam jihad, kemudian mereka masuk Islam, sehingga penawanan ini menyebabkan mereka masuk Islam dan masuk Surga. Hadis kedua dianggap sebagai tafsir dan penjelasan dari hadis mauqūf yang pertama. Dalam aṡar Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- para penawan tersebut disifati bahwa mereka adalah sebaik-baik manusia bagi manusia lainnya karena mereka telah menjadi sebab jalan hidayah bagi para tawanan. Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- memulai perkataannya dengan ayat Al-Qur`ān karena ini adalah salah satu tanda di antara tanda-tanda keutamaan umat ini.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku pernah berjalan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara beliau mengenakan selendang buatan negeri Najran yang kasar tepinya. Lalu seorang badui mengejar beliau dan menarik selendang beliau dengan keras. Aku lihat di permukaan pundak beliau terdapat bekas tepi selendang, karena kerasnya tarikan orang badui itu. Lantas orang itu berkata, 'Wahai Muhammad! Perintahkanlah agar aku diberikan harta Allah yang ada padamu!' Beliau lalu menoleh padanya sembari tersenyum, kemudian beliau memerintahkan untuk memberinya pemberian."
Muttafaq 'alaihAnas -raḍiyallāhu 'anhu- bercerita, "Aku pernah berjalan bersama Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sementara beliau mengenakan burd (selendang)" yaitu pakaian yang bergaris, "yang berasal dari Najran" yaitu sebuah negeri di Yaman. Makna: "Yang kasar tepinya", yakni ujungnya. "Lalu seorang badui mengejar beliau", yakni mengikuti beliau. Makna: "Menarik selendang beliau," yakni orang badui itu menarik selendang Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan keras. Anas berkata, "Aku lihat di permukaan pundak Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-," yaitu sebuah lokasi di pundak, "terdapat bekas," yakni, di permukaan pundak, "ujung selendang, karena kerasnya tarikannya." Kemudian orang badui itu berkata, "Wahai Muhammad!" Secara lahir laki-laki badui ini termasuk di antara orang yang sedang dijinakkan hatinya (mualaf). Oleh karena itu, dia melakukan apa yang dilakukannya itu. Selanjutnya dia memanggil Nabi dengan menyebut nama beliau secara kasar padahal laut kelembutan lebih luas, ia berkata, "Perintahkanlah!" Yaitu, perintahkanlah para wakilmu agar mereka memberikanku! Atau perintahkanlah pemberian untukku! Makna: "Sebagian dari harta Allah yang ada padamu", yakni yang engkau tidak memiliki jasa pada apa yang engkau berikan, sebagaimana disebutkan secara tegas dalam sebuah riwayat, dia berkata, "Bukan yang berasal dari hartamu dan bukan pula dari harta bapakmu." Ada yang berpendapat, maksudnya ialah harta zakat, sebab sebagian harta zakat itu diberikan kepada orang yang dijinakkan hatinya (mualaf). "Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menoleh padanyanya", yakni beliau memandangnya karena heran. "Lalu beliau tersenyum," untuk menampakkan sikap ramah, "kemudian beliau memerintahkan untuk memberinya pemberian."
Dari Ibu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, dia berkata, "Di masa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kami makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri."
Diriwayatkan oleh Ibnu Mājah - Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh AhmadPerbuatan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- menunjukan bahwa minum saat berdiri boleh, dengan restu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- atas perbuatan mereka. Tetapi yang utama saat seseorang makan dan minum hendaknya duduk, karena begitulah petunjuk Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang biasa beliau lakukan. Adapun terkait minum berdiri mak adi riwayat valid dari Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bahwa beliau melarang mimun sambil berdiri. Akan tetapi hadis ini menjadi dalil bahwa pelarangan itu bukan pengharaman, hanya menyelisihi yang lebih utama. Maknanya, yang lebih baik saat makan dan minum adalah duduk, tetapi tidak mengapa minum dan makan dalam keadaan berdiri.
Dari Abu Juray Jābir bin Sulaim -raḍiyallāhu 'anhu-, seraya berkata, "Aku melihat seorang lelaki yang perkataannya ditaati manusia. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, "Siapakah orang ini?" Orang-orang menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aku berkata, " 'Alaikassalām, wahai Rasulullah -dua kali-" Beliau bersabda, "Jangan kau katakan, ''Alaikassalām, karena ucapan 'Alaikassalām adalah penghormatan untuk orang yang telah meninggal dunia. Ucapkanlah, "Assalāmu'alaika." Abu Juray bin Sulaim berkata, "Aku bertanya, 'Apakah engkau Rasulullah?'" Beliau menjawab, "Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menghilangkan malapetaka itu darimu. Apabila engkau dilanda kekeringan selama satu tahun, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan menumbuhkan (tumbuh-tumbuhan) untukmu. Jika engkau berada di tanah gersang atau padang pasir lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada-Nya, niscaya Dia mengembalikan unta itu kepadamu." Juray bin Sulaim berkata, "Aku berkata, 'Perintahkanlah kepadaku.'" Beliau bersabda, "Janganlah engkau mencela siapa pun." Juray berkata, "Setelah itu aku tidak pernah lagi mencela baik kepada orang merdeka atau hamba sahaya atau unta atau domba." "Janganlah engkau menghina kebaikan sedikit pun. Hendaklah engkau berbicara kepada saudaramu dengan wajah berseri-seri karena hal itu termasuk kebaikan. Angkatlah kain sarungmu sampai ke pertengahan betis. Jika engkau tidak mau, maka sampai ke kedua kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung, karena itu termasuk kesombongan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Sesungguhnya akibat buruknya akan menimpanya.
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadJābir bin Sulaim -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku melihat seseorang yang perkataannya menjadi rujukan manusia. Setiap kali berbicara kepada manusia, niscaya mereka mengerjakannya. Aku bertanya kepada orang-orang, "Siapakah dia?" Orang-orang menjawab, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-." Aku berkata, " 'Alaikassalām, wahai Rasulullah, 'Alaikassalām wahai Rasulullah " Beliau bersabda, "Jangan kau katakan, " 'Alaikassalām karena ucapan 'Alaikassalām adalah penghormatan untuk orang yang telah meninggal dunia." Ucapkanlah, "Assalāmu'alaika" Aku bertanya, "Apakah engkau Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ya, aku adalah utusan Allah," yaitu aku adalah orang yang diutus Allah. Jika engkau ditimpa kefakiran dan musibah, lalu engkau berdoa kepada-Nya dengan merendahkan diri dan penuh harap, niscaya Dia menghilangkan malapetaka darimu. Jika engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun di mana pada saat itu bumi tidak menumbuhkan tumbuhan, lalu engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengadakan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Jika engkau berada di gurun yang tidak ada air dan manusia serta untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada-Nya, niscaya Dia mengembalikan unta itu kepadamu." Aku berkata kepada beliau, "Berpesanlah dengan sesuatu yang bermanfaat bagiku." Beliau bersabda, "Janganlah engkau mencela siapa pun." Sejak itu aku tidak pernah lagi mencela baik kepada orang merdeka atau hamba sahaya atau unta atau domba." Lantas beliau bersabda, "Janganlah engkau tinggalkan kebaikan sedikit pun karena menganggapnya remeh, janganlah engkau entengkan ucapanmu kepada saudaramu sedang di wajahmu ada keceriaan untuknya karena hal itu adalah kebaikan. Angkatlah kain sarungmu dan pakaian lainnya sampai ke pertengahan betis. Jika engkau tidak melakukannya, maka angkatlah sampai ke kedua kaki. Tidak ada dosa antara dua mata kaki sampai ke pertengahan betis. Jauhilah memanjangkan kain sarung, karena itu termasuk kesombongan dan kecongkakan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu berupa dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan buruk, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Sesungguhnya akibat buruknya akan menimpanya pada hari kiamat. Terkadang sebagiannya disegerakan di dunia."
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Seandainya manusia memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mengejar yang ketiga. Padahal (pada akhirnya) perutnya tidak akan terisi oleh selain tanah, dan Allah menerima tobat mereka yang bertobat."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa seandainya manusia telah berhasil memiliki satu lembah berisi penuh emas, dengan tabiat rakusnya, ia pasti menginginkan dua lembah lainnya. Ia tidak akan berhenti mengejar dunia hingga meninggal dan perutnya dipenuhi oleh tanah kuburannya.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berkata, Dahulu Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bila akan berperang, beliau berdoa, “Ya Allah, Engkaulah Penguat dan Penolongku. Dengan-Mu aku bergerak, dan dengan-Mu aku berjalan, serta dengan-Mu aku berperang.”
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu DaudDahulu Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bila hendak berperang atau telah mulai berperang, beliau berdoa yang maknanya, “Ya Allah, Engkaulah Penolong dan Pendukungku, hanya dengan-Mu sajalah aku berpindah dari satu urusan ke urusan yang lainnya. Hanya dengan-Mu sajalah aku bangkit menghadapi musuh-musuh agama ini, dan dengan-Mu lah aku berperang.”
Dari Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', "Dua hal yang tidak akan ditolak atau sedikit sekali ditolak: doa ketika azan dan ketika takut (perang) saat sebagian merapat kepada sebagian yang lainnya."
Diriwayatkan oleh Abu DaudDi dalam hadis ini terdapat penjelasan keutamaan jihad di jalan Allah, dimana Allah -Ta'ālā- mengabulkan doa seorang mujahid saat dalam pertempuran. Juga di dalam hadis ini terdapat penjelasan keutamaan azan di mana Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengabulkan doa orang muslim ketika azan sampai ikamah untuk salat dikumandangkan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh ada di tengah umat-umat sebelum kalian orang-orang yang diberikan firasat; bila itu ada pada umatku, maka tentu dia adalah Umar."
Muttafaq 'alaihAbu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan kepada kita tentang karamah Amīrul-Mu`minīn Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu-, yaitu dia mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sungguh ada di tengah umat-umat sebelum kalian orang-orang yang diberikan firasat" yaitu diberi ilham pada yang benar; mereka mengucapkan suatu ucapan lalu ucapan itu sesuai kebenaran. Ini termasuk karamah Allah bagi seorang hamba bahwa ketika seseorang mengucapkan suatu ucapan atau berfatwa dengan sebuah fatwa atau memutuskan suatu keputusan, terbukti baginya setelah itu bahwa ia sesuai dengan kebenaran. Umar -raḍiyallāhu 'anhu- termasuk orang yang paling banyak tepat dengan kebenaran. Beliau bersabda, "Bila itu ada pada umatku, maka tentu dia adalah Umar." Ini bukan bentuk keragu-raguan karena umat Islam adalah umat yang paling utama dan paling sempurna, melainkan sebagai ungkapan penegasan. Artinya, bila hal itu ada pada umat selain umat Islam, maka kemungkinan adanya pada umat Islam lebih utama. Semakin kuat iman seseorang kepada Allah dan semakin tinggi ketaatannya, maka Allah -Ta'ālā- akan membimbingnya kepada kebenaran sesuai dengan kadar iman, ilmu, dan amal saleh yang dimilikinya. Misalnya, Anda mendapatkan seseorang melakukan suatu amalan yang menurutnya benar tanpa memiliki dalil dari Al-Qur`ān dan Sunnah, lalu setelah melakukan pengecekan atau bertanya dia mendapatkan amalannya itu sejalan dengan Al-Qur`ān dan Sunnah. Ini termasuk karamah. Demikian pula Umar -raḍiyallāhu 'anhu- yang dikatakan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Bila orang-orang yang diberi firasat itu ada pada umatku, maka tentu dia adalah Umar."
Quṭbah bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi Muhammad ﷺ biasa berdoa, "Allāhumma innī a'ūżu bika min munkarātil-akhlāq wal-a'māl wal-ahwā`" Artinya: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak dan amal perbuatan yang mungkar serta hawa nafsu."
HR. TirmiziDi antara doa Nabi Muhammad ﷺ: Allāhumma innī a'ūżu (ya Allah, aku berlindung); yakni aku menyelamatkan diri dan memohon perlindungan ... Bika (kepada-Mu), yaitu bukan kepada selain-Mu. Min munkarāt (dari hal-hal yang mungkar); yaitu yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah ... Al-akhlāq (di antara akhlak); yaitu seperti dengki, hasad, dan sombong. Wal-a'māl (demikian juga hal-hal mungkar di antara amal perbuatan); yaitu seperti caci maki. Wal-ahwā` (dan seluruh hawa nafsu); yaitu semua yang disukai oleh jiwa dan yang menyelisihi syariat.