





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
'Uṡmān asy-Syaḥḥām meriwayatkan, Aku bersama Farqad as-Sabakhiy berangkat menemui Muslim bin Abu Bakrah ketika sedang berada di kebunnya. Lalu kami masuk menemuinya dan mengatakan, "Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan satu hadis tentang fitnah?" Dia menjawab: "Ya, aku mendengar Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, 'Akan terjadi banyak fitnah. Kemudian terjadi suatu fitnah, sehingga orang yang duduk lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari. Apabila fitnah itu telah terjadi, siapa yang memiliki unta maka hendaknya ia mengurus untanya. Siapa yang memiliki kambing maka hendaknya ia mengurus kambingnya. Siapa yang memiliki tanah maka hendaknya ia mengurus tanahnya.' Seorang laki-laki bertanya, 'Wahai Rasulullah! Apa pandanganmu tentang orang yang tidak memiliki unta, kambing maupun tanah?' Beliau bersabda, 'Hendaknya ia mengambil pedangnya lalu menumbuk bagian tajamnya dengan batu lalu menyelamatkan diri jika mampu. Ya Allah! Apakah aku sudah sampaikan? Ya Allah! Apakah aku sudah sampaikan? Ya Allah! Apakah aku sudah sampaikan?' Seseorang berkata, 'Wahai Rasulullah! Bagaimana pandanganmu jika aku dipaksa hingga aku dibawa ke salah satu barisan, atau salah satu kelompok, lalu aku ditebas seseorang dengan pedangnya atau anak panah mengenaiku dan membunuhku?' Beliau menjawab, 'Dia memikul dosanya dan dosamu dan dia termasuk penghuni neraka.'"
HR. MuslimUṡmān asy-Syaḥḥām dan Farqad as-Sabakhiy bertanya kepada Muslim, anak sahabat yang mulia bernama Abu Bakrah -raḍiyallāhu 'anhu-, apakah dia pernah mendengar satu hadis dari ayahnya yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ tentang fitnah dan perang yang terjadi antara kaum muslimin? Dia menjawab: Ya. Nabi ﷺ mengabarkan akan terjadi banyak fitnah setelah beliau meninggal dunia. Pada fitnah-fitnah tersebut, orang yang duduk dan tidak mengetahuinya lebih baik dari orang yang berjalan padanya dan tidak menginginkannya maupun mencarinya. Sedangkan orang yang berjalan masih lebih baik dari yang bersegera menyongsongnya, mencarinya, dan ikut serta di dalamnya. Kemudian Nabi ﷺ mengarahkan orang yang mendapatkan masa terjadinya fitnah tersebut agar menjauhkan diri jika ada tempat menyelamatkan diri. Siapa yang memiliki unta yang digembalakan, hendaklah ia menyusul untanya. Siapa yang memiliki kambing yang digembalakan, hendaklah ia menyusul kambingnya. Siapa yang memiliki tanah dan kebun, hendaklah ia pergi ke kebunnya. Lantas seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah! Apa pandanganmu tentang orang yang tidak memiliki tempat menyelamatkan diri seperti unta, kambing, maupun tanah? Beliau bersabda: Hendaklah ia mengambil senjatanya lalu menumbuk dan mematahkannya, kemudian lari menyelamatkan diri bersama anak keturunannya jika ia bisa menyelamatkan diri. Kemudian Rasulullah ﷺ meminta kesaksian tiga kali dengan mengatakan; Ya Allah, apakah aku sudah sampaikan? Ya Allah, apakah aku sudah sampaikan? Ya Allah, apakah aku sudah sampaikan? Lalu seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apa pandanganmu jika aku dipaksa untuk ikut dengan salah satu barisan atau salah satu kelompok, lalu aku ditebas seseorang dengan pedangnya atau anak panah mengenaiku lalu membunuhku? Beliau bersabda: Dia menanggung dosa dirinya dan dosa orang yang dia bunuh, dan kelak di hari Kiamat dia termasuk penghuni neraka.
Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling baik akhlaknya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ adalah orang yang paling sempurna akhlaknya. Beliau orang yang terdepan dalam semua akhlak dan adab baik, seperti berbicara baik, mencurahkan kebaikan, bermuka ceria, tidak menyakiti dan tidak balas menyakiti orang lain.
Sa'ad bin Hisyām bin 'Āmir berkata ketika menemui Āisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Wahai Ummul Mukminin, sampaikan kepadaku tentang akhlak Rasulullah ﷺ!" Aisyah berkata, "Bukankah engkau membaca Al-Qur`an?" Aku menjawab, "Ya." Aisyah berkata, "Akhlak Nabi ﷺ ialah Al-Qur`an."
HR. Muslim dalam rangkaian hadis yang panjangUmmul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ditanya tentang akhlak Nabi ﷺ, maka beliau menjawab dengan kalimat yang ringkas lagi padat dan mengalihkan si penanya pada Al-Qur`n Al-Karīm yang merangkum semua sifat-sifat kesempurnaan. Beliau berkata, "Nabi ﷺ berperangai dengan akhlak Al-Qur`an." Apa yang diperintahkan oleh Al-Qur`an, beliau amalkan, dan apa yang dilarang oleh Al-Qur`an, beliau tinggalkan. Sebab itu, akhlak beliau adalah implementasi Al-Qur`an, mematuhi batasan-batasannya, melaksanakan adab-adabnya dan mengambil ibrah dan pelajaran dari perumpamaan dan kisah-kisahnya.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah ﷺ senang memulai dengan kanan dalam mengenakan sandal, bersisir, bersuci, dan dalam segala urusannya."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ suka serta mengutamakan untuk memulai dengan bagian kanan dalam semua urusan yang perlu dimuliakan, di antaranya: memulai dengan kaki kanan dalam memakai sandal, memulai dengan sebelah kanan dalam menyisir rambut kepala dan jenggot serta dalam meminyakinya. Demikian juga dalam berwudu, beliau mendahulukan yang kanan sebelum kiri pada tangan dan kaki.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, "Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ tertawa lebar sampai terlihat organ uvulanya. Tetapi, beliau hanya tersenyum."
Muttafaq 'alaihAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- mengabarkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah berlebihan tertawa sampai terlihat uvulanya, yaitu sepotong daging yang menggantung di langit-langit mulut. Akan tetapi, beliau hanya tersenyum.
Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Nabi ﷺ lebih pemalu daripada gadis yang masih di tempat pingitannya. Apabila beliau melihat sesuatu yang tidak disukai, kami mengetahui hal itu di muka beliau."
Muttafaq 'alaihAbu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa Nabi ﷺ lebih pemalu daripada seorang gadis yang belum menikah dan belum berinteraksi dengan laki-laki karena masih dipingit di rumahnya. Lantaran tingginya rasa malu beliau, ketika tidak menyukai sesuatu maka rona muka beliau berubah sekaligus tidak berbicara. Bahkan, sahabat-sahabat beliau mengetahui hal itu di muka beliau.
Dari Al-Barrā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhumā-, "Bahwasanya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang dalam perjalanan, lalu beliau melaksanakan salat Isya. Di salah satu rakaatnya beliau membaca surah At-Tīn. Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang suaranya atau bacaannya lebih indah dari beliau."
Muttafaq 'alaihNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca surah At-Tīn di rakaat pertama salat Isya karena beliau sedang dalam perjalanan. Dalam perjalanan itu sendiri hendaklah memperhatikan keringanan dan kemudahan karena kesulitan dan kepayahannya. Meskipun Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sedang dalam perjalanan, tetapi beliau tidak meninggalkan hal yang dapat membangkitkan kekhusyukan dan kehadiran hati saat menyimak Al-Qur'ān. Yaitu memperindah suara bacaan (Al-Qur'ān) dalam salat.
Abdullah bin Mālik bin Buḥainah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Apabila Nabi ﷺ melaksanakan salat, beliau merenggangkan antara kedua tangannya hingga terlihat warna putih ketiaknya.
Muttafaq 'alaihKebiasaan Nabi ﷺ ketika sujud adalah merenggangkan kedua tangannya, yaitu dengan menjauhkan setiap tangan dari sisi badan yang ada di dekatnya, membentuk seperti dua sayap, sampai tampak warna kulit ketiak beliau. Ini adalah kiasan hiperbola agar menjauhkan kedua lengan dari kedua sisi badan saat sujud.
Dari Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Ketika sakit Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- semakin parah, maka beliau pun diliputi kedukaan (menghadapi sakaratul maut). Lantas Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Kesukaran yang ayahanda rasakan." Kemudian beliau bersabda, "Ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini." Selanjutnya setelah beliau wafat, Fatimah berkata, "Wahai ayahandaku yang telah memenuhi panggilan Rabbnya! Wahai ayahandaku, Surga Firdaus adalah tempat kediamannya. Wahai ayahandaku, kepada Jibril kami sampaikan berita wafatnya!" Setelah beliau dikebumikan, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apakah sampai hati kalian semua menaburkan tanah di atas jasad Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?"
Diriwayatkan oleh BukhariHadis ini menggambarkan kesabaran Nabi kita -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- terhadap sakaratul maut. Ketika sakit beliau semakin parah yang membuatnya meninggal dunia, maka kedukaan pun menyelimutinya karena dahsyatnya sakit yang diderita. Sakit yang diderita Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- sangat hebat. Hal ini mengandung hikmah yang tinggi sehingga beliau mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah sebagai balasan kesabarannya. Ketika kedukaan menyelimuti beliau, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Kesukaran yang ayahanda rasakan." Fatimah mengeluh atas kesulitan yang dihadapi ayahnya karena dia seorang wanita, dan wanita itu tidak mampu untuk bersabar. Nabi -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- bersabda, "Ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini." Sebab, Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika berpindah dari dunia, maka beliau berpindah ke Ar-Rafīq Al-A'lā. Sebagaimana Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- saat sakaratul maut menyelimutinya- bersabda, "Ya Allah di sisi Ar-Rafīq Al-A'lā, ya Allah di sisi Ar-Rafīq Al-A'lā," sambil melihat ke langit-langit rumah." Rasulullah -'alaihi aṣ-ṣalātu wa as-salām- wafat lalu Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- meratapinya dengan ratapan yang ringan dan tidak menunjukkan sikap murka terhadap takdir dan ketetapan Allah. Ucapan Fatimah, "yang telah memenuhi panggilan Rabbnya". Hal itu karena kekuasaan atas segala sesuatu ada di tangan Allah –Ta'ālā-, dan ajal semua makhluk ada ditangan-Nya. Beliau memenuhi panggilan malaikat Allah, yaitu bahwasanya ketika Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- wafat, beliau seperti orang-orang Mukmin yang lain. Ruh beliau naik dan berhenti tatkala sampai di sisi Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- di atas langit ketujuh. Ucapan Fatimah, "Wahai ayahandaku, Surga Firdaus adalah tempat kediamannya." Sebab, beliau adalah makhluk yang memiliki derajat paling tinggi di Surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Mohonlah kepada Allah Al-Wasīlah. Sesungguhnya Al-Wasīlah adalah satu tingkatan di Surga yang hanya diperuntukkan bagi seorang hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba itu." Tidak ada keraguan lagi bahwa tempat kediaman beliau adalah Surga Firdaus. Surga Firdaus adalah tingkatan Surga paling tinggi, dan atap yang ada di atasnya adalah 'Arsy Allah -Jalla Jalāluhu-, dan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- berada di tingkatan Surga yang paling tinggi. Ucapan Fatimah, "Wahai ayahandaku, kepada Jibril kami sampaikan berita wafatnya!" Sesungguhnya kami memberitahukan wafatnya kepada Jibril. Sebab, Jibril adalah malaikat yang selalu mendatanginya dan mengajarinya wahyu pada saat beliau hidup. Wahyu itu sendiri berkaitan erat dengan kehidupan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Selanjutnya ketika beliau dipikul dan dikebumikan, Fatimah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Apakah sampai hati kalian menaburkan tanah di atas jasad Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-?" Yakni, begitu berdukanya dia kepada beliau, dan begitu sedih serta sakitnya berpisah dengan bapaknya, serta pengetahuannya bahwa para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- telah diisi hatinya oleh Allah dengan kecintaan kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, maka dia melontarkan pertanyaan tersebut kepada mereka. Hanya saja Allah-lah yang memiliki ketetapan dan kepada-Nya tempat kembali. Hal ini sebagaimana firman Allah –Ta'ālā- dalam Kitab-Nya, "Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati."