





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- secara marfū'. Sekelompok Arab Badui mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan bertanya, "Apakah kalian mencium anak-anak kecil kalian?" Nabi menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Namun, demi Allah, kami tidak mencium mereka." Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Aku tak dapat berbuat apa-apa jika Allah telah mencabut rasa sayang dari hati-hati kalian."
Muttafaq 'alaihSalah satu suku dari Arab Badui datang menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan bertanya, "Apakah kalian mencium anak-anak kecil kalian?" Nabi menjawab, "Ya." Sedang Arab Badui terkenal bertemperamen keras dan kasar. Mereka berkata, "Namun, demi Allah, kami tidak mencium anak-anak kecil kami." Nabi -salallahu alaihi wasallam- berkata, "Jika Allah mencabut rasa sayang dari hati kalian, aku tak dapat meletakkannya di hati-hati kalian."
Dari 'Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Suatu pagi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar dengan mengenakan kain yang bergambar pelana unta yang terbuat dari bulu hitam."
Diriwayatkan oleh MuslimUmmul Mu'minin 'Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menggambarkan sebagian keadaan Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam hal pakainnya. Seperti di suatu pagi beliau keluar bersama para sahabatnya dengan mengenakan pakaian yang bergambar pelana unta dari bulu hitam.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, “Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk di atas pantat lalu menegakkan betisnya sambil memakan kurma.”
Diriwayatkan oleh MuslimAnas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- duduk sambil menempelkan pantatnya ke tanah lalu menegakkan betisnya sambil memakan kurma agar tidak makan banyak. Sesungguhnya dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak akan mewujudkan ketenangan dalam duduknya sehingga ia tidak akan makan banyak.
Dari Abu Rimṡah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memakai dua baju hijau."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad - Diriwayatkan oleh DārimiAbu Rimṡah -raḍiyallāhu 'anhu- mengabarkan bahwa dirinya pernah melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memakai pakaian yang berwarna hijau.
Dari Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Pakaian yang paling disenangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah gamis."
Diriwayatkan oleh Tirmiżi - Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh Ahmad"Pakaian yang paling disenangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah gamis." Sebab, gamis lebih menutupi daripada sarung dan selendang. Ini juga merupakan sehelai pakaian yang dikenakan oleh manusia satu kali saja. Ia lebih mudah daripada memakai sarung lebih dahulu lalu selendang. Meskipun demikian, jika engkau berada di satu negara yang penduduknya sudah terbiasa mengenakan sarung dan selendang dan engkau memakai pakaian seperti mereka, maka tidak berdosa . Yang penting jangan sampai engkau mengenakan pakaian yang berbeda dengan pakaian penduduk negerimu sehingga timbul sorotan (menarik perhatian). Nabi Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- melarang pakaian demi ketenaran (popularitas).
Dari Abu Sa'îd al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', bahwa ada sebagian orang dari Ansar yang meminta-minta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau beri. Kemudian minta lagi dan diberi lagi, sampai yang beliau miliki habis. Beliau berkata kepada mereka ketika apa yang beliau miliki sudah habis, "Apa pun kebaikan yang aku punya, aku tidak akan menyembunyikannya dari kalian. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya dari kejelekan, maka Allah akan memulyakannya. Barangsiapa merasa cukup (dengan karunia Allah) maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan menjadikannya penyabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada anugerah kesabaran".
Muttafaq 'alaihAda orang-orang dari Ansar meminta kepada Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- kemudian diberi. Lalu minta lagi dan diberi lagi. Hingga habis apa yang beliau punya. Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa tidak mungkin beliau menyimpan sesuatu, untuk disembunyikan dari mereka. Tetapi sudah tidak tersisa apa pun pada beliau. Beliau menasehati mereka agar menjaga kehormatan, merasa cukup dan bersabar. Beliau mengabarkan, bahwa siapa yang merasa cukup dengan apa yang ada di sisi Allah dari harta yang ada di tangan manusia, Allah akan mencukupinya. Kaya yang hakiki tentunya kaya hati. Jika seseorang telah merasa cukup dengan apa yang ada di sisi Allah, dari apa yang ada di tangan manusia, Allah cukupkan dia dari rasa butuh kepada manusia. Menjadikannya punya harga diri (martabat), jauh dari meminta-minta. Siapa yang menjaga kemuliaan diri dari perkara yang Allah haramkan seperti wanita (lawan jenis), Allah jadikan dia mulia, Allah melindunginya dan juga keluarganya. Dan siapa yang berusaha sabar, Allah jadikan dia penyabar. Maksudnya Allah beri dia kesabaran. Dan tidaklah Allah mengaruniai kepada seseorang pemberian atau rezeki atau lainnya, yang lebih baik dan lebih lapang daripada sabar.
Dari Abdullah bin Amru -raḍiyallahu 'anhumā- bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca firman Allah -'Azza wa Jalla- tentang ucapan Nabi Ibrahim -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Ya Rabbku! Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku..." (Ibrāhīm: 36), dan ucapan Nabi Isa -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Māidah: 118). Lantas beliau menengadahkan kedua tangan sambil mengucapkan, "Ya Allah, (selamatkan) umatku, (selamatkan) umatku", lalu beliau menangis. Maka Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, "Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad -dan Rabbmu lebih mengetahui-, lalu tanyakan padanya, apakah yang membuatnya menangis? Lantas Jibril mendatangi Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dan beliau memberitahukan padanya apa yang beliau ucapkan tersebut -dan Dia lebih mengetahui hal itu-. Maka Allah -Ta'ālā- berfirman, "Wahai Jibril! Pergilah menemui Muhammad, lalu katakan, "Kami akan membuatmu rida terkait umatmu dan Kami tak akan membuatmu sedih."
Diriwayatkan oleh MuslimNabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- membaca perkataan Nabi Ibrahim -'alaihiṣ ṣālatu was salām- tentang berhala, "Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku..." (Ibrāhīm: 36), dan ucapan Nabi Isa, "Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Muu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Māidah: 118). Lantas beliau menengadahkan kedua tangan sambil menangis, dan berkata, "Wahai Rabbku, umatku, umatku." Maksudnya, kasihi mereka dan maafkan mereka." Maka Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman kepada Jibril, "Pergilah kepada Muhammad! Tanyakan kepadanya apa yang membuatmu menangis?" Padahal Allah lebih mengetahui apa yang membuat beliau menangis. Lantas Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberitahukan apa yang beliau ucapkan yaitu, "Umatku, umatku". Padahal Allah lebih mengetahui apa yang diucapkan Nabi-Nya -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Lalu Allah -'Azza wa Jalla- berfirman kepada Jibril, "Pergilah menemui Muhammad, lalu katakan, "Kami akan membuatmu rida terkait umatmu dan Kami tak akan membuatmu sedih." Dan Allah -'Azza wa Jalla- telah membuat beliau rida terkait umat beliau, segala puji bagi Allah, dari beberapa sisi. Di antaranya, pahala melimpah; mereka umat terakhir namun unggul di hari kiamat; dan mereka diberi kelebihan yang banyak atas umat-umat lainnya.
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, “Pernah seorang budak wanita di Madinah mengambil tangan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, lalu ia pergi membawa beliau ke mana saja ia mau.”
Diriwayatkan oleh BukhariHadis ini menunjukkan sifat tawaduk Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meskipun beliau adalah manusia yang paling mulia; di mana seorang budak wanita di kota Madinah datang kepada beliau kemudian mengambil tangan beliau, lalu membawa beliau ke mana saja ia mau agar Nabi dapat membantu menyelesaikan keperluannya. Ini terjadi padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, dan beliau tidak berkata, “Ke mana engkau akan membawaku?” atau mengatakan, “Carilah orang lain!” Namun beliau pergi bersamanya dan menyelesaikan keperluannya. Dengan ini semua, Allah --'Azza wa Jalla-- justru menambah kemuliaan dan ketinggian beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Catatan: Ungkapan “mengambil tangan” di sini bukan berarti tangan beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyentuh tangan budak wanita itu. Al-Ḥāfiẓ Ibnu Hajar mengatakan, “Yang dimaksud ‘mengambil tangan’ di sini adalah apa yang menjadi konsekwensinya, yaitu bersikap lembut dan tunduk mengikuti. Ia juga mengandung semua bentuk tawaduk yang sangat dalam, karena yang disebutkan adalah seorang wanita bukan pria, seorang budak dan bukan wanita merdeka, sebab hadis ini menyebutkan lafal umum “budak wanita” mana saja.”
Dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Ada seorang pemuda Yahudi yang biasa melayani Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Suatu ketika, ia jatuh sakit. Lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjenguknya. Beliau duduk di sisi kepalanya lalu berkata kepadanya, "Masuklah engkau ke dalam Islam!" Pemuda itu memandang ayahnya yang ada bersamanya. Ayahnya berkata, "Taatilah Abul Qasim." Pemuda itu pun masuk Islam. Selanjutnya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- keluar sambil bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka."
Diriwayatkan oleh BukhariDalam hadis ini disebutkan bahwa ada seorang anak kecil keturunan Yahudi yang tinggal di Madinah melayani Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-. Suatu ketika ia sakit, lantas Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menjenguknya, kemudian beliau menawarkan Islam kepadanya. Anak itupun masuk Islam. Nabi pun bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka."