





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Dari Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- ia berkata, "Aku pernah masuk menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau terserang panas. Lantas aku menyentuh beliau. Aku berkata, "Engkau terserang sakit panas yang parah." Beliau bersabda, "Iya, aku terserang panas seperti panasnya dua orang di antara kalian."
Muttafaq 'alaihIbnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan bahwa dia pernah masuk menemui Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- yang sedang menderita sakit yang parah. Lantas ia menjulurkan tangannya lalu berkata kepada beliau, "Sungguh engkau menderita sakit parah, wahai Rasulullah." Beliau memberitahunya bahwa dirinya menderita sakit parah sebagaimana menimpa dua orang dari kita. Hal itu supaya beliau -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mendapatkan derajat sabar yang paling tinggi.
Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam-, beliau bersabda, "Tidak seorang pun yang diutus oleh Allah sebagai Nabi, melainkan ia pernah menggembala kambing." Para sahabatnya bertanya, "Anda juga?" Beliau menjawab, "Ya, aku pun pernah menggembala kambing penduduk Mekah dengan upah beberapa qirāṭ."
Diriwayatkan oleh BukhariSemua Nabi pernah menggembalakan kambing ketika mereka hidup. Zahir hadis ini menunjukkan bahwa itu mereka lakukan sebelum diangkat menjadi Nabi. Para ulama mengatakan, "Hikmah dari pekerjaan tersebut adalah supaya manusia berlatih mengayomi makhluk dan mengarahkan mereka kepada hal yang mengandung kebaikan. Sebab, seorang penggembala kambing kadang-kadang mengarahkan kambingnya ke padang gembala, kadang membiarkannya berdiri saja, dan terkadang mengembalikannya ke kandang. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- akan mengayomi umat dan mengarahkannya kepada kebaikan dengan ilmu, petunjuk, dan hujah seperti seorang penggembala yang memiliki ilmu tentang tempat-tempat penggembalaan yang baik, dan ia juga memiliki nasehat dan arahan untuk kambing menuju tempat yang baik baginya, di mana di sana ada makanan dan minumannya. Dipilihnya kambing sebagai gembalaan karena pemilik kambing memiliki sifat tenang, kalem, dan tenteram. Ini berbeda dengan unta. Biasanya, pemilik unta berwatak keras dan kasar, karena memang unta memiliki sifat keras dan kasar. Untuk itu, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- memilihkan untuk para Rasul-Nya latihan menggembala kambing agar mereka terbiasa dan terlatih untuk mengayomi (mengasuh) makhluk (manusia).
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah akan mengembalikan rohku kepadaku agar aku membalas salamnya."
HR. Abu Daud dan AhmadNabi ﷺ mengabarkan bahwa roh beliau dikembalikan pada jasadnya untuk menjawab setiap orang yang bersalam kepadanya, baik dekat maupun jauh. Kehidupan barzakh dan kubur adalah perkara gaib, tidak ada yang mengetahui hakikatnya kecuali Allah karena Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dicabut nyawanya sementara kepala beliau berada di antara dada dan leherku. Ketika nyawa beliau keluar, belum pernah sekali pun aku mendapatkan aroma yang lebih harum dari aroma itu."
Diriwayatkan oleh AhmadAisyah, istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia dalam keadaan bersandar ke dadanya. Ketika nyawa beliau keluar, Aisyah mencium aroma yang wangi, belum pernah sekali pun ia mencium aroma yang lebih wangi dari itu.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- pernah ditanya, "Aktivitas apakah yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di rumahnya?" Ia menjawab, "Beliau sama dengan manusia lainnya; membersihkan pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan mengurusi dirinya sendiri."
Diriwayatkan oleh AhmadAisyah, istri Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- pernah ditanya, "Aktivitas apakah yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- di rumahnya?" Maka Aisyah menerangkan, bahwa beliau sama dengan orang-orang pada umumnya; yaitu beliau membersihkan kotoran dari pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan mengurusi dirinya sendiri. Aisyah menyebutkan pekerjaan-pekerjaan ini sekadar sebagai contoh.
Ibnu 'Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- diangkat sebagai nabi ketika berusia 40 tahun, lalu beliau tinggal di Mekah menerima wahyu selama 13 tahun. Kemudian beliau diperintahkan berhijrah, maka beliau pun berhijrah dan menetap (di Madinah) selama 10 tahun sampai beliau meninggal di usia 63 tahun."
Muttafaq 'alaihHadis ini memberikan pelajaran bahwa wahyu diturunkan kepada Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ketika beliau berumur 40 tahun, lalu beliau menetap di Mekah menerima wahyu selama 13 tahun. Kemudian Allah -Ta'ālā- memerintahkan beliau untuk berhijrah dari Mekah menuju Madinah, lalu menetap di sana selama 10 tahun sampai beliau meninggal. Sehingga beliau memiliki umur 63 tahun.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Terakhir kali aku melihat Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah ketika beliau menyingkap tirai rumahnya sementara orang-orang sedang bersaf di belakang Abu Bakar -raḍiyallāhu 'anhu-. Kemudian Abu Bakar hendak mundur, namun beliau memberikan isyarat kepada mereka agar tetap di tempat mereka, lantas beliau menurunkan lagi tirai tersebut. Beliau meninggal setelahnya di hari itu, yaitu hari Senin."
Diriwayatkan oleh Nasā`i - Diriwayatkan oleh MuslimTerakhir kali Anas bin Malik melihat Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- ialah ketika beliau menyingkap tirai yang membatasi kamar beliau dengan masjid dan beliau melihat para sahabat sedang mengerjakan salat di belakang Abu Bakar dengan bersaf. Kemudian Abu Bakar menyadari hal itu dan mengira bahwa Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- hendak keluar menunaikan salat, maka dia pun hendak mundur dan berdiri bersama saf para sahabat supaya Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- datang lalu salat mengimami mereka. Namun Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- memberikan isyarat perintah kepada mereka supaya mereka tetap di tempat mereka dan menyelesaikan salat mereka. Kemudian beliau menutup kembali tirai tersebut. Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- meninggal dunia setelahnya di hari itu, yaitu pada hari Senin.
Al-Barā` -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, "Aku belum pernah melihat orang berambut panjang sampai ke bahu dan mengenakan setelan pakaian berwarna merah yang lebih tampan dari Rasulullah ﷺ. Rambut beliau menyentuh kedua bahu, antara kedua bahunya lebar, serta memiliki postur tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek."
Muttafaq 'alaihAl-Barā' bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- menceritakan bahwa ia belum pernah melihat orang yang memiliki rambut panjang hingga mencapai kedua bahunya dan mengenakan pakaian berwarna hitam bermotif merah yang lebih indah dari Rasulullah ﷺ. Beliau memiliki ciri fisik berupa bahu yang lebar, dada bidang, dan postur tubuh yang sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek.
Dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- ia menuturkan, "Tangan kanan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- digunakan untuk bersuci dan makan, sedangkan tangan kiri digunakan untuk buang air dan hal-hal yang kotor." Dari Ḥafṣah -raḍiyallāhu 'anhā- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- biasa menggunakan tangan kanan beliau untuk makan, minum dan memakai baju, dan menggunakan tangan kiri untuk yang selain itu."
Diriwayatkan oleh Abu Daud - Diriwayatkan oleh AhmadAisyah -raḍiyallāhu 'anhā- menjelaskan pekerjaan apa saja yang dilakukan Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dengan tangan kanan dan apa saja beliau yang beliau lakukan dengan tangan kiri. Ia menyebutkan bahwa urusan yang biasanya beliau lakukan dengan tangan kiri adalah perkara yang bersentuhan dengan kotoran, seperti istinja (menghilangkan najis dengan air), istijmār (menghilangkan najis dengan batu), istinsyāq (memasukkan air ke dalam hidung), istinṡār (mengeluarkan air setelah istinsyāq) dan semacamnya. Segala yang berhubungan dengan kotoran diutamakan menggunakan tangan kiri, sedang yang selain itu maka diutamakan menggunakan tangan kanan, karena memuliakan tangan kanan. Sebab kanan itu lebih utama daripada kiri. Hadis ini membahas disunahkannya mendahulukan yang kanan dalam perkara yang layak dimuliakan. Perkataan Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "untuk bersuci ", maksudnya, apabila beliau bersuci mengawali dengan bagian kanan, yakni membasuh tangan kanan dulu sebelum tangan kiri, kaki kanan dulu sebelum kaki kiri. Sedangkan sepasang telinga dianggap satu organ yang termasuk bagian kepala sehingga diusap bersama-sama, kecuali jika hanya mampu mengusap dengan satu tangan, maka dalam kondisi ini memulai mengusap telinga kanan dahulu karena terpaksa. Perkataannya, "dan makan", maksudnya, makan beliau. "Sedangkan tangan kiri beliau digunakan untuk buang air", karena di sini dilakukan istinja, mengambil batu untuk istijmār dan menghilangkan kotoran. "dan hal-hal yang kotor", seperti menyingkirkan ludah dan ingus. Termasuk juga menyingkirkan kutu. Hadis Ḥafṣah di atas menguatkan hadis Aisyah yang menjelaskan disunahkannya memulai dengan kanan dalam perkara yang layak dimuliakan, dan mendahulukan kiri dalam perkara yang berkaitan dengan kotoran seperti istinja, istijmār dan semacamnya.