





























Hadeeth Cards
Da'wa cards that highlight great meanings from the noble prophetic hadiths in a simple style and attractive display that helps the Muslim to have a deeper understanding of his religion in an easy way
All
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia."
HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Ahmad, dan BaihaqiNabi ﷺ mengabarkan bahwa beliau diutus oleh Allah ﷻ hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia dan akhlak baik. Nabi ﷺ diutus sebagai penyempurna bagi rasul-rasul sebelumnya dan penyempurna bagi akhlak-akhlak Arab yang baik. Bangsa Arab adalah orang-orang yang mencintai kebaikan dan benci terhadap keburukan, mereka juga orang-orang yang memiliki muruah, kedermawanan, dan keberanian. Nabi ﷺ diutus untuk menyempurnakan kekurangan yang ada pada akhlak mereka seperti membangga-banggakan nasab, sombong, merendahkan orang miskin, dan lain sebagainya.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah Ta'ala berfirman: Anak Adam menyakiti-Ku. Mereka mencaci masa, padahal Aku pemilik dan pengatur masa. Di tangan-Kulah semua urusan. Akulah yang membolak-balik malam dan siang."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah Ta'ala berfirman dalam hadis qudsi: Orang yang mencela dan mencaci masa (waktu) ketika terjadi musibah dan keburukan berarti dia telah menyakiti dan mencela-Ku. Alasannya, karena Allah ﷻ adalah yang mengurus dan mengatur sendiri semua yang terjadi, sehingga celaan terhadap masa adalah celaan kepada Allah ﷻ. Masa tidak lain adalah makhluk yang dikendalikan, semua peristiwa yang terjadi padanya berdasarkan perintah Allah Ta'ala.
Abu Ruqayyah Tamīm bin Aus ad-Dāriy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Agama itu nasihat (ketulusan)." Kami bertanya, "Kepada siapa?" Nabi menjawab, "Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan semua kaum muslimin pada umumnya."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa agama itu dibangun di atas keikhlasan dan kejujuran sehingga ia ditunaikan sebagaimana yang Allah wajibkan secara sempurna tanpa adanya kelalaian atau kecurangan. Ditanyakan kepada Nabi ﷺ, "Kepada siapa nasihat (ketulusan) itu diberikan?" Beliau menjawab, Pertama: Nasihat (ketulusan) untuk Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Ini dilakukan dengan memurnikan amalan kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, mengimani rububiah, uluhiah, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengagungkan perintah-Nya, dan mengajak manusia untuk beriman kepada-Nya. Kedua: Nasihat (ketulusan) untuk kitab Allah, yaitu Al-Qur`an. Ini dilakukan dengan meyakininya sebagai kalam Allah sekaligus sebagai kitab terakhir-Nya yang menasakh semua syariat sebelumnya, mengagungkannya, membacanya dengan benar, mengamalkan kandungan ayat-ayatnya yang muḥkam (bermakna jelas) dan menyerahkan makna ayat-ayatnya yang mutasyābih (bermakna samar) kepada Allah, membelanya dari takwilan orang-orang yang menyelewengkannya, mengambil nasihatnya, menyebarkan ilmunya, dan mendakwahkannya. Ketiga: Nasihat (ketulusan) untuk Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Ini dilakukan dengan meyakini bahwa beliau adalah rasul terakhir, membenarkan semua ajarannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau bawa, menjunjung serta mengagungkan hak beliau, menebarkan dakwah dan syariat beliau, dan membersihkan tuduhan-tuduhan terhadap beliau. Keempat: Nasihat (ketulusan) untuk pemimpin kaum muslimin. Ini dilakukan dengan membantu mereka di atas kebenaran, tidak memberontak, serta patuh dan taat kepada mereka dalam hal ketaatan kepada Allah. Kelima: Nasihat (ketulusan) untuk kaum muslimin. Ini dilakukan dengan berbuat baik kepada mereka, mendakwahi mereka, tidak mengganggu mereka, menginginkan kebaikan untuk mereka, dan bekerja sama dengan mereka dalam kebajikan dan ketakwaan.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, "Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan dua orang (yang sedang berselisih) merupakan sedekah, menolong seseorang pada kendaraannya, yaitu menaikkannya ke atas kendaraan atau membantunya mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya itu sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."
HR. Bukhari dan MuslimNabi ﷺ menerangkan bahwa setiap muslim dibebani sedekah sunah setiap hari sejumlah persendian tulangnya sebagai wujud syukur kepada Allah atas keafiatannya serta anugerah-Nya yang menjadikan tulang-tulangnya memiliki persendian sehingga memungkinkan dirinya untuk melipat dan meluruskannya. Beliau juga menjelaskan bahwa sedekah tersebut dapat ditunaikan dalam bentuk seluruh amal kebajikan dan tidak terbatas dalam wujud memberikan harta. Di antaranya: 1- Mengadili dan mendamaikan dua orang yang saling berselisih adalah sedekah. 2- Membantu orang yang lemah pada kendaraannya dengan menaikkannya atau mengangkatkan barangnya ke atasnya adalah sedekah. 3- Perkataan yang baik berupa zikir, doa, salam dan lainnya adalah sedekah. 4- Setiap langkah kaki yang berjalan untuk melaksanakan salat adalah sedekah. 5- Menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah.
'Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Kami berbaiat kepada Rasulullah ﷺ untuk selalu mendengar dan taat dalam kesulitan dan kemudahan, ketika semangat dan malas (benci), serta dalam kondisi monopoli atas kami, agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya, dan agar kami mengucapkan yang benar di mana pun berada, tidak takut di jalan Allah terhadap celaan orang yang mencela."
Muttafaq 'alaihNabi ﷺ mengambil perjanjian dari para sahabat agar selalu patuh kepada pemimpin dalam keadaan mudah dan sulit, keadaan berkecukupan dan kekurangan, baik perintah mereka sejalan dengan yang diinginkan jiwa atau tidak disukainya. Bahkan, sekiranya para pemimpin mementingkan diri sendiri di atas rakyat terkait harta milik umum, jabatan atau lainnya, mereka tetap wajib mendengar dan menaati para pemimpin itu dalam hal yang makruf, serta tidak memberontak kepada mereka sebab fitnah dan kerusakan akibat memerangi mereka lebih besar dan lebih berat daripada kerusakan yang timbul akibat kezaliman mereka. Termasuk di antara isi perjanjian mereka kepada beliau ialah selalu mengucapkan yang benar di mana pun sembari meniatkan hal itu untuk Allah dan tidak takut pada orang yang akan mencela mereka.
Ummul Mukminin Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Akan muncul pemimpin-pemimpin, kalian akan akui sebagian perbuatan mereka dan sebagiannya kalian ingkari. Siapa yang mengakuinya, maka dia telah bebas. Siapa mengingkari, maka dia telah selamat. Tetapi, masalahnya ialah siapa yang setuju dan ikut." Para sahabat bertanya, "Tidakkah kami perangi saja mereka?" Beliau bersabda, "Tidak, selama mereka menunaikan salat."
HR. MuslimRasulullah ﷺ mengabarkan bahwa kita akan dikuasai oleh pemimpin-pemimpin, sebagian perbuatan mereka kita akui karena sesuai dengan ajaran syariat, dan sebagiannya kita ingkari karena menyelisihinya. Siapa yang membenci kemungkaran itu dengan hatinya dan tidak mampu mengingkarinya, maka ia telah selamat dari dosa dan kemunafikan. Demikian juga orang yang mampu mengingkari dengan tangan atau lisan lalu mengingkari hal itu pada mereka, maka ia telah selamat dari kemaksiatan dan keikutsertaan di dalamnya. Tetapi, orang yang rida dan mengikuti perbuatan mereka, maka ia akan binasa sebagaimana kebinasaan mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi ﷺ: Tidakkah kita memerangi pemimpin-pemimpin yang seperti itu sifatnya? Namun beliau ﷺ melarang mereka dengan mengatakan: Jangan, selama mereka masih menegakkan salat di tengah-tengah kalian.
Abu Mūsā Al-Asy'ari -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang hamba sakit atau sedang safar maka (amal ibadah yang ia tinggalkan) akan dicatat baginya seperti yang biasa ia lakukan ketika dalam keadaan mukim dan sehat."
HR. BukhariNabi ﷺ mengabarkan tentang karunia dan rahmat Allah, bahwa ketika seorang muslim memiliki kebiasaan melakukan suatu amal saleh ketika sehat dan mukim, lalu dia mendapatkan uzur, misalkan ia sakit sehingga tidak lagi mampu mengerjakannya atau disibukkan oleh perjalanan, atau uzur lainnya, maka akan dituliskan baginya pahala amalan tersebut secara sempurna sebagaimana ia mengerjakannya saat sehat dan mukim.
Tamīm Ad-Dāriy -raḍiallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Agama itu nasihat (ketulusan)." Kami bertanya, "Kepada siapa?" Nabi menjawab, "Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan semua kaum muslimin pada umumnya."
HR. MuslimNabi ﷺ mengabarkan bahwa agama itu dibangun di atas keikhlasan dan kejujuran sehingga ia ditunaikan sebagaimana yang Allah wajibkan secara sempurna tanpa adanya kelalaian atau kecurangan. Ditanyakan kepada Nabi ﷺ: Kepada siapa nasihat itu diberikan? Beliau menjawab: Pertama: Nasihat (ketulusan) untuk Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Ini dilakukan dengan memurnikan amalan kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, mengimani rububiah, uluhiah dan nama-nama serta sifat-Nya, mengagungkan perintah-Nya dan mendakwahkan keimanan kepada-Nya. Kedua: Nasihat (ketulusan) untuk kitab Allah, yaitu Al-Qur`an. Ini dilakukan dengan meyakininya sebagai kalam Allah dan kitab-Nya yang paling terakhir dan bahwa ia menasakh semua syariat sebelumnya, mengagungkannya, membacanya dengan sebenarnya, mengamalkan kandungan ayat-ayatnya yang muḥkam (bermakna jelas) dan menyerahkan makna ayat-ayatnya yang mutasyābih (bermakna samar) kepada Allah, membelanya dari takwilan orang-orang yang menyelewengkannya, mengambil nasihatnya, menyebarkan ilmunya, dan mendakwahkannya. Ketiga: Nasihat (ketulusan) untuk Rasulullah Muhammad ﷺ. Ini dilakukkan dengan meyakini bahwa beliau adalah rasul paling terakhir, membenarkan semua ajarannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau bawa, menjunjung dan mengagungkan hak beliau, menebarkan dakwah dan syariat beliau, dan membersihkan tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada beliau. Keempat: Nasihat (ketulusan) untuk pemimpin kaum muslimin. Ini dilakukan dengan membantu mereka dalam kebenaran, tidak memberontak, serta patuh dan taat kepada mereka dalam ketaatan kepada Allah. Kelima: Nasihat (ketulusan) untuk kaum muslimin. Ini dilakukan dengan berbuat baik kepada mereka, mendakwahi mereka, menahan gangguan dari mereka, menginginkan kebaikan untuk mereka, dan bekerja sama dengan mereka dalam kebajikan dan ketakwaan.
Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah ﷺ berdoa di dalam rumahku ini, "Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku meskipun kecil, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Sebaliknya, siapa yang mengurusi urusan umatku meskipun kecil, lalu ia bersikap lemah lembut kepada mereka, maka perlakukanlah ia dengan lemah lembut."
HR. MuslimRasulullah ﷺ mendoakan setiap orang yang mengurusi sebagian urusan kaum muslimin, baik kecil maupun besar, baik dalam kekuasaan yang bersifat umum ataupun kekuasaan yang khusus atau parsial, lalu ia mempersulitnya dan tidak berlaku lemah lembut pada mereka, maka Allah Ta'ala akan membalas mereka dengan yang setimpal dengan perbuatan mereka, yaitu Allah akan mempersulit urusan dirinya. Sebaliknya, siapa yang berlaku lemah lembut kepada mereka serta memudahkan urusan mereka, maka Allah akan berlaku lemah lembut kepadanya serta memudahkan urusannya.